Endro Dwi Hatmanto

Pendidikan Bahasa Inggris UMY

Ketika kita ngomong teori behaviorism, kita sering mengaitkan dengan teori pembelajaran. Teori ini juga sering dihubungkan dengan madzab empirisme. Ini karena perhatian teori ini pada segala hal yang bisa diindera dan diobservasi. Behaviorisme terkenal sekali pada era tahun 40-an dan 50-an (Anda belum lahir kan?). Tokoh-tokoh di belakang teori ini antara lain Ivan Pavlov, John Watson dan Edward Thorndike. Mereka semua ini nih berpandangan bahwa pembelajaran itu intinya perubahan sikap. Nah perubahan sikap ini dicapai melalui pembentukan kebiasaan. Terus, untuk membentuk kebiasaan Anda memerlukan stimulus dan dikuatkan lagi melalui latihan terus-menerus. Pengaruh madzab ini begitu kuat dirasakan pula dalam pembelajaran bahasa pada beberapa dekade yang lalu. BF Skinner (1957) dalam bukunya “Verbal Behavior” berujar bahwa pemerolehan bahasa pada anak dicapai melalui pengkondisian yang dilakukan oleh orang dewasa. Orang-orang dewasa memberi contoh dan penguatan. Anak-anak kemudian meniru, mempraktekkan dan membentuk kebiasaan.

Para penganut teori behaviorisme dalam pembelajaran menganggap bahwa lingkungan adalah komponen yang penting abis. Lingkungan dapat memberi stimulus dan penguatan. Contoh nih, orang tua memberikan contoh penggunaan ungkapan bahasa dengan berbicara kepada anak dalam situasi yang bermacam-macam. Nah, anak itu akan mendengar berbagai ungkapan tersebut. Kalau anak itu membuat kesalahan, si orang tua akan membenarkan kesalahan itu. Ungkapan-ungkapan bahasa itulah yang kemudian akan diucapkan terus oleh anak dan membentuk kebiasaan. Nah, anakpun bisa ngomong.

Komponen penting lainnya dalam teori behaviorisme adalah penggunaan penguatan positif dan penguatan negatif. Penguatan positif sering disebut dengan ‘reward’ atau ganjaran. Penguatan negatif sering disebut ‘punishment’ atau hukuman. Bahasa kerennya adalah “positive reinforcement” dan “negative reinforcement”, gitcu!  Ketika anak memproduksi bahasa dengan benar, si orang tua memberi apresiasi misalnya dengan bilang, “Eh pintar sekali kamu Dul !”. Boleh juga si orang tua memberikan hadiah permen atau boneka drakula ! Kalau si anak tidak dapat mengucapkan ungkapan dengan baik, si orang tua membenarkannya dan mengambil permen yang sudah diberikan, “Dul, kalau kamu salah Papi akan ambil nih permen rasa kari ayammu!”   Orang dewasa juga berperan dalam mendorong si anak menggunakan ungkapan bahasa yang lebih rumit. Grammar dipelajari dengan teknik asosiasi dan substitusi (mengaitkan dan mengganti) kata dalam frase.

Setiap teori pasti ada pengritiknya, termasuk behaviorism. Pengritik paling keras bin judes dari teori behaviorism adalah idola saya Bapak Noam Chomsky, si ahli linguistik dari Paman Sam itu tuh. Dia bilang bahwa teori ini lemah. Kenapa? Chomsky berpandangan bahwa dalam proses “reinforcement” dalam pemerolehan bahasa, yang dilakukan orang tua biasanya adalah penguatan aspek makna. Maksudnya gini, si anak lihat seekor anjing, tapi dia berkata “It’s a cat”. Orang tua lalu membenarkan, “It’s a dog”. Namun menurut Chomsky, orang tua nggak pernah membenarkan grammar si anak. Misal, anak bilang, “Daddy, it dog”. Si papi sering cuek dengan kesalahan itu. Tapi buktinya, menurut Chomsky, si anak itu akhirnya tetap akan bisa bicara dengan grammar yang baik, lho! Bahkan anak dapat memproduksi ujaran-ujaran yang variatif dan kreatif. Nah, Chomsky kemudian berpendapat bahwa otak setiap anak  sejak lahirnya sudah dilengkapi dengan “software” bahasa. Bahasa kerennya adalah “cognitive mechanism” untuk memproduksi bahasa. Bahasa ilmiahnya adalah LAD atawa “language acquisition device”.  Begitu!

Referensi:

Skinner, B.F, 1957, Verbal behavior, Appleton Century Crofts, New York.