Ingin Sukses dan Menjadi Pemimpin? Bacalah !

Oleh: Endro Dwi Hatmanto, MA

Suatu saat di Gua Ghira, Rasulullah didatangi oleh  sebuah sosok berpakaian putih yang tidak lain adalah malaikat Jibril. “Bacalah!”, demikian perintah Malaikat Jibril kepada Sang Nabi. “Saya tidak bisa membaca!”, demikian jawab Rasulullah. Namun Jibril malah memeluk Rasulullah dengan pelukan yang kuat, hampir membuat beliau pingsan. Kemudian, Malaikat Jibril mengulangi perintahnya “Bacalah!” Singkat. Padat. Dan perintah itu tidak berubah. Rasulullah tidak tahu apa yang diinginkan Jibril. Dengan menatap sosok asing dihadapannya, Rasulullah menjawab untuk kedua kalinya, “Saya tidak bisa membaca!”.  Kemudian Malaikat Jibril kembali memeluk Rasulullah sampai hampir pingsan. “Bacalah!”, Sang Jibril memberi perintah lagi. “Saya tidak bisa membaca”. Rasulullah tidak bergeming, memberikan jawaban yang sama. Malaikan kembali memeluk Rasulullah untuk yang ketiga kalinya, kemudian melepaskannya dan membacakan surah Al-Alaq ayat I sampai 5.

Ada sebuah hal yang menggelitik ketika kita merenungkan kisah yang sangat penting ini. Kenapa yang diperintahkan kepada Rasulullah adalah “Bacalah!” ? Kenapa tidak, “Makanlah!” Atau “Tidurlah!”.  Atau bahkan, “Belajarlah!” ?. Terhadap pertanyaan ini, Dr. Raghib As-Sirjani dalam bukunya ‘Spiritual Reading memberi jawaban yang menarik: “Sungguh kita punya banyak cara untuk belajar. Namun membaca akan menjadi sarana yang paling agung dalam belajar. Hidup manusia akan lebih bermakna dengan membaca”.

Membaca ternyata tidak hanya bermakna spiritual. Membaca juga bermanfaat dalam membangun kehidupan profesional Anda. Misalnya saja, dalam konteks membangun potensi kepemimpinan, Jarvis Finger bahkan dengan lantang mengatakan, “Leaders must be readers!”. Pemimpin haruslah seorang pembaca. Finger tidak berlebihan. Banyak penelitian menunjukkan bahwa membaca buku-buku profesional, dan jurnal dapat menjadikan Anda sebagai manusia pemimpin  yang efisien, dan profesional. Untuk itu, Anda memerlukan beberapa ‘amunisi’ untuk menjadi ‘manusia pembaca’.

Terimalah Fakta ini: ‘If You are Not Reading, You Shouldn’t be Leading’. Kalau Anda Tidak Membaca, Sebaiknya Anda Tidak Memimpin

Sebuah perpustakaan di sebuah universitas di kota Adealide, Australia memampangkan sebuah tulisan di dekat pintu masuk. Simaklah pesan dari tulisan tersebut:

Reading is the most fundamental, reliable and efficient resource for leaders. It is the purpose of professional reading to equip the leaders for independent creative thinking. It is through the literature that executives live, learn and think about their swiftly moving and complex profession”.

Membaca adalah sumber yang sangat penting, dapat diandalkan dan efisien bagi para pemimpin. Tujuan dari membaca profesional adalah untuk membekali para eksekutif agar dapat berpikir secara kreatif dan independen. Melalui membaca, para eksekutif hidup, belajar dan berpikir agar dapat terus beradaptasi dengan dunia profesi yang terus bergerak dan semakin kompleks.

Kalimat sarat makna di atas sebenarnya ingin menyampaikan pesan kepada Anda: “Jika Anda ingin menjadi seorang profesional, bacalah!”. “Jika Anda ingin menjadi seorang pemimpin yang handal, bacalah!”. Membaca menjadi kunci untuk membuka pintu kesuksesan. Membaca menjadi pembuka jendela kemajuan. Membaca menjadi penguat tiang pancang peradaban. Membaca memperluas altar-altar kebudayaan. Membaca menyiapkan Anda untuk mengemban tongkat estafet kepemimpinan.

Sediakan Waktu untuk Membaca

“Bila Anda membaca selama 15 menit sehari, Anda dapat menyelesaikan 15 buku dalam satu tahun. Membaca dapat menjadi sebuah cara yang sempurna untuk mengisi waktu luang Anda. Dan yang jelas, membaca akan membantu melejitkan karier Anda”. Demikianlah kata-kata dari Zig Ziglar.

Namun, masalah utama bagi para profesional adalah mencari waktu luang untuk membaca. Namun jangan menyerah pada situasi. Kuncinya adalah disiplin. Sediakan waktu selama 10 sampai 2o menit dalam sehari khusus untuk membaca. Ya fokus untuk membaca. Kemauan ini akan semakin meningkat jika Anda memegang sebuah etos: “I value reading!” “Saya menghargai membaca”. “Membaca sangat berharga bagi saya”. Alernatif lain, ciptakan kebiasaan membaca selama Anda menunggu: di bandara, stasiun kereta api, terminal bis, di lobi hotel dan di lobi sekolah anak Anda. Andapun dapat membaca sewaktu berada di kereta api, pesawat dan bis, kan?  Jangan kaget, seorang pendeta bernama John Wesley sering menghabiskan waktu untuk membaca di atas kuda ! Jangat terkejut, bahkan ketika terbaring sakit, Ibnu Taymiah memanfaatkan waktunya untuk membaca. Jangan terperanjat, ulama Salaf Muhammad As-Saghani memanfaatkan waktu 50 tahun untuk fokus membaca, menelaah dan menulis buku.

Selektiflah dalam Membaca

Tahukah Anda bahwa majalah New York Times pernah menerbitkan edisi spesialnya dengan berat 3, 5 kilo?! Tidak usah heran, di dalamnya Anda akan menjumpai 10 juta kata dalam 1600 halaman.

Ini sekedar sebuah contoh ektrim. Di Indonesia, kita juga sudah dibanjiri oleh ratusan, bahkan ribuan majalah, buku dan bulletin. Penerbit-penerbit baru tumbuh bagai cendana di musim hujan. Database-database jurnal bermekaran bak di musim semi. Belum lagi kalau Anda membuka mesin pencari di internet. Maka Anda akan segera menemukan ‘jalan tol informasi’. “Superhighway information!”. Informasi membanjiri kehidupan Anda setiap hari. Anda kemudian menderita apa yang oleh Goal disebut sebagai ‘information overload’ alias banjir informasi. Andapun jadi pusing, pening dan merinding.

Tidak seperti banjir di Jakarta, banjir informasi mudah di atasi, diantisipasi dan diberi solusi. Kuncinya adalah selektiflah dalam membaca. Rahasianya adalah “membaca sedikit namun berkualitas lebih baik daripada membaca banyak namun hanya permukaan saja”. Jika Anda sulit mengalokasikan waktu untuk membaca, Anda harus mengeliminasi bacaan-bacaan yang tidak perlu. Jika memang tidak begitu penting bagi Anda, mengapa harus membeli majalah mode? Jika memang tidak ‘urgent’ mengapa tergoda membeli buku primbon? Jika tidak berkontribusi terhadap kehidupan profesional Anda, mengapa iseng-iseng membeli buku sulap dan bacaan-bacaan lain yang remeh-temeh? Fokuskan pada area dan bidang Anda. Untuk menjadi profesional, Anda harus selalu ‘up to date’ dengan informasi terbaru dalam bidang keahlian Anda.

Gunakan Strategi ‘super reading’

“Good readers aren’t primarily readers at all. They are detectives, explorers, scientists, critics, and editors”, demikian kata Norman Chaners (in IBM’s Think Magazine). Chaners benar. Seorang pembaca yang bagus tidak hanya membaca. Ia juga harus menjadi seorang detektif, penjelajah, ilmuwan, kritikus dan editor. Membaca bukan semata kerja mekanik dari mata. Lebih dari itu, membaca adalah kerja mental dan intelektual.

Pembaca yang baik dituntut untuk jeli seperti detektif, lincah bak penjelajah, serius seperti ilmuwan, kritis seperti kritikus dan teliti seperti editor. Dalam kaitan ini, menarik untuk memperhatikan sebuah firman Allah. “Ini adalah sebuah kitab yang kami turunkan kepadamu penuh berkah, supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mereka mendapatkan pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran” (QS. 38: 29). Kitab suci diturunkan kepada manusia untuk solusi bagi problem kemanusiaan. Untuk membekali kita jadi abdi dan khalifah. Namun ada syaratnya. Kita harus takzim ‘memperhatikan’ ayat-ayat Allah. Kita juga harus menjadi ‘ulul albab’, yakni manusia-manusia profesional yang mengaktifkan daya intelektual kita. Daya nalar diperlukan untuk menelaah pesan-pesan tersirat dan tersurat Illahi dalam kitab suci.

Kalau pesan ini ditujukan untuk menelaan ayat-ayat dalam kitab suci, prosesnya sebenarnya tidak berbeda dengan membaca buku. Untuk sukses membaca, kita harus menjadi ‘ulul albab’. Kerahkan segala daya mental dan intelektual untuk memahami bacaan. Gunakan strategi. Kerahkan energi. Kuatkan nyali. Miliki spirit yang tinggi.

Di bawah ini adalah strategi ‘super reading’ yang akan menjadikan Anda pembaca yang efektif:

  • Lakukan ‘scanning’ buku sebelum Anda membacanya—lihatlah sampulnya, baca judul buku, daftar isi, kata pengantar, index, biografi pengarang. Langkah ini akan membantu Anda mengenali isi dan topik dari buku yang Anda baca secara cepat dan tepat. Ini juga langkah untuk menimbang apakah cukup berguna untuk meluangkan waktu membaca buku itu.
  • Lakukan ‘previewing’— Begitu memegang sebuah buku, para pembaca biasanya langsung membaca seluruh kalimat, tuntas dari awal sampai akhir. Dan strategi ini tidak tepat. Waktu yang digunakan menjadi lama. Pikiranpun terganggu dalam mencerna kata demi kata. Solusinya: Lakukan ‘previewing’. Yakni, bacalah hanya setiap awal kalimat dari paragraph. Kalimat di awal paragraf merupakan gagasan utama sebuah paragraph. Dengan hanya membaca gagasan utama paragraph, Anda akan memahami 50% dari isi sebuah paragraph. Dengan langkah ini, gagasan utama dari buku dapat tergali. Ide utama dari pengarang dapat Anda kenali. Pikiran pokok dari penulis dapat Anda selami.
  • Bacalah dengan tujuan—Setelah melakukan preview, Anda dapat membaca buku secara keseluruhan. Nasehat saya: selalu tetapkan tujuan dalam membaca! Jika Anda membaca referensi untuk esai Anda, tentu Anda tidak akan membaca buku seperti membaca novel. Selami kedalaman gagasan penulis. Miliki pertanyaan-pertanyaan kritis Anda. Carilah makna. Teliti ide-ide kunci. Gerakkan mata dengan lincah. Jangan baca kalimat yang mungkin tidak perlu.
  • Lakukan ‘skimming’—Simak paragraf berikut. “Dogs are often a problem at home. Many dogs are noisy and dirty. They may even be dangerous for small children”. Untuk memahami paragraph ini Anda tidak perlu membaca semua kalimat. Yang perlu baca hanyalah kata ‘problem, noisy, dirty dan dangerous’. Inilah yang disebut skimming. Skimming membuat kecepatan membaca meningkat pesat. Membaca tidak lagi berat. Perolehan pengetahuanpun menjadi berlipat.
  • Refleksikan—Setiap Anda mendapatkan informasi penting dan menarik, berhentilah membaca. Kritisilah sudut pandang pengarang. Refleksikan pesan-pesan penulis. Rangkum gagasan pengarang dalam pikiran Anda. Dengan cara ini, otak akan menjadi aktif. Pikiran menjadi produktif. Pertautan pengetahuan semakin kohesif. Inilah konsep membaca aktif!
  • Gunakan apa yang Anda baca Garisbawahi kalimat-kalimat yang penting. Buat catatan di sekitar ide-ide cemerlang. Jika perlu, catat gagasan-gagasan cerdas dari bacaan ke dalam buku saku Anda. Dan jangan lupa gunakan apa yang telah Anda baca untuk meningkatkan kualitas komunikasi Anda dalam diskusi, rapat, dan dalam berbagai kesempatan profesional. Bumbui kalimat Anda dengan kutipan. Dukung gagasan Anda dengan pikiran dari penulis buku. Gagasan dan wawasan baru dari buku tentu akan membuat kalimat Andapun semakin bermutu.
  • Keep informed and up to date—Salah satu ciri dari era pengetahuan adalah produksi pengetahuan yang sangat massif. Ribuan buku dan jutaan jurnal ditulis dan diterbitkan setiap hari. Di tengah belantara pengetahuan seperti ini, seorang profesional seperti Anda harus menjadi manusia pembelajar sejati. Pengetahuan menjadi mudah basi. Tuntutan membaca gagasan terkini semakin tinggi. Stay up to date, man! Pastikan selalu mencari informasi terbaru dari bacaan-bacaan terbitan terkini. Kunjungi toko buku. Investasikan uang Anda untuk membeli bacaan-bacaan bermutu. Jadilah anggota perpustakaan. Gunakan perpustakaan sebagai alat untuk memompa kapasitas profesional Anda.

Sebuah Ide Cemerlang: Delegasikan Membaca!

Saya mengenal seorang manajer pada sebuah BUMN di negeri ini. Idenya sangat unik dan menarik. Karena waktunya sangat terbatas, Dia sering tugaskan stafnya untuk membaca dan merangkum buku baru. Selesai membaca, staf itu ditugaskan untuk menyampaikan hasil rangkuman buku itu dalam rapat. Ide hebat, khan? Boleh Anda coba!

Membaca Itu Investasi, so Jangan Merasa Bersalah !

Banyak juga lho kaum profesional yang merasa bersalah ketika mereka memanfaatkan 10 menit waktunya untuk membaca di meja kerjanya. “Eh, kok saya Cuma baca sih?” “Wah nggak produktif, nih”. Beginilah ucapan-ucapan mereka”. Jangan salah sir,madam, anggapan ini tidak benar. Perhatikan nasehat J.J. McCarthy dalam bukunya “Why Managers Fail”:

Managers must realize that their organization’s continued progress will be based, in part, on their ability, and that of their colleagues to increase their knowledge and skills and to keep pace with progress and change—through professional literature!.

Dengan kata lain, manajer harus menyadari bahwa salah satu kemajuan organisasi didasarkan pada kemampuan para anggotanya untuk meningkatkan pengetahuan melalui ‘proessional reading’.  Pengetahuan adalah alat untuk berselancar menghadapi gelombang perubahan.

Oleh karena itu, ibu-ibu dan bapak-bapak manajer dan semua yang ada di sini, yang membaca buku ini: Berdirilah di garda terdepan dengan menjadi manusia pembaca! Promosikan spirit membaca. Nikmati proses Anda menjadi insan pembelajar. Dan wow, lihatlah hasilnya!