Hidup Adalah Perbuatan, Maka Berbuatlah, Be a Man of Action!

 Dan tidaklah manusia itu memiliki sesuatu kecuali yang ia usahakan (Qur’an, 53: 34).

oleh: Endro Dwi Hatmanto, MA

 

Pernah membaca buku ‘Don’t move my cheese’?

Syahdan, ada sebuah negeri yang penduduknya para tikus dan kurcaci. Para tikus dan kurcaci. Makanan favorit mereka adalah keju. Tak heran bila mereka menyimpan banyak keju di rumah itu. Suatu hari para kurcaci dan tikus itu kehilangan keju. Para kurcacipun berdebat bagaimana mereka harus menemukan keju itu. Merekapun berdiskusi menyusun strategi dan langkah-langkah taktis untuk menemukan keju itu. Berbeda dengan para kurcaci yang berdiskusi panjang lebar, tikus langsung mencari mencari keju dan akhirnya menemukan keju itu. Ketika mereka pulang membawa keju itu para tikus itu masih melihat para kurcaci berdebat dan berdiskusi untuk menemukan cara mencari keju. Begitulah, para tikus itu ternyata memegang sebuah moto yang sederhana: hidup adalah perbuatan. Dengan langsung berbuat dalam bentuk mencari keju yang hilang, para tikus itu berhasil mendapatkan keju itu kembali. Dan para kurcaci itu hanya menelan ludah karena mereka tidak lekas berbuat. Mereka hanya sibuk berbicara tentang strategi menemukan keju.

Dalam kehidupan nyata, banyak dari kita yang lebih senang meniru gaya kurcaci. Kita lebih senang bicara daripada berbuat. Implikasinya memilukan. Keju kehidupan tidak berhasil kita dapatkan. Keju kesuksesan hilang entah kemana. Mengapa?

Jangan Engkau tanya pada rumput yang bergoyang! Mari kita beratnya kepada seorang kritikus seni dan penulis kondang. Namanya John Ruskin, asal Inggris. Ruskin pernah mengatakan; “What we think or what we know or what we believe is, in the end, of little consequence. The only consequence is what we do”. Artinya kurang lebih “Apa yang kita pikirkan atau apa yankita ketahui atau apa yan kita percayai, pada akhirnya, hanya akan membawa hasil yang kecil. Hasil yang nyata hanyalah apa yang kita lakukan”. Kata-kata Ruskin ini sebenarnya sama dan sebangun dengan bahasa prokem anak-anak muda, “Kamu sih bisanya Cuma NATO alias No Action Talk Only”. Tidak berbuat, hanya omong saja!

Percayalah, dunia tidak akan membayar apa yang Anda ketahui; dunia membayar apa yang Anda lakukan. Ada sebuah diktum yang dipercayai kebenarannya: “Alam semesta menghargai perbuatan Anda”. Pesan mendasar dari keseluruhan panggilan ini adalah bahwa akar tunggang dari pohon kesuksesan adalah perbuatan. Tidak berlebihan ketika Chairil Anwar mengatakan bahwa hidup adalah perbuatan. Teori yang hebat, pemikiran  yang berat, analisis yang dashyat dan pendekatan yang memikat tiada berguna ketika tidak diikuti oleh perbuatan. Berbagai best praktis tidak berarti ketika rencana tidak diberi aksi.

Ketika ada berbuat, Anda bagaikan magnet yang bertenaga kuat dan berenergi hebat. Anda akan menarik elemen-elemen yang akan merangkai kesuksesan dengan semangat. Ketika Anda melakukan aksi, orang-orangpun bangun dan mulai memperhatikan Anda. Individu-individu yang memiliki visi yang sama dengan Anda akan mulai membuka pintu kerjasama dengan Anda. Ketika Anda berbuat Anda akan menjadi manusia pembelajar. Anda akan menghadapi pengalaman-pengalaman yang tidak Anda dapatkan dalam teori-teori. Anda akan mendapatkan masukan-masukan untuk menjadi lebih efisien dan lebih baik. Anda akan mendapat cara yang elegan dan strategi yang menawan untuk menjemput harapan.

Ngomong mah Gampang!

 Realitas bertutur, ada satu hal yang membedakan antara pemenang dan pecundang. Pembedanya adalah ketika para pecundang berhenti pada pada omongan, para pemenang pada umumnya memeluk erat sebuah prinsip: berbuat ! Ya, mereka take action! Mereka bangun dan mengerjakan apa yang harus dikerjakan. Ketika mereka sudah selesai membuat sebuah rencana, mereka segera mulai bekerja untuk mewujudkan rencana tersebut. Mereka bergerak. Bahkan jika pekerjaan mereka tidak sempurna, mereka terus bergerak. Mereka belajar dari kesalahan. Dan terus berbuat sampai mereka mendapatkan hasil yang diharapkan.

Untuk menjadi sukses, Anda harus mengikuti cara orang-orang yang sukses. Mereka memang memiliki visi. Namun mereka mengikutinya dengan aksi. Mereka menerjemahkan visi dalam langkah-langkah kongkrit. Lalu mereka melangkah. Mereka mengantisipasi potensi  hambatan yang muncul. Sekarang saatnya berhenti bicara. Mulailah melakukan aksi:

Ikutlah kursus komputer tambahan.

Ikutlah training kepemimpinan.

Bangun pagi dan berolahragalah.

Mulailah menjauhi makanan berkolesterol.

Mulailah berhenti merokok.

Mulailah berhenti minum.

Bangun malam dan sholatlah.

Mulailah menulis buku.

Tulis proposal.

Mulailah menginvestasikan uang Anda.

Take action, coy !

 Harta Karun Tidak akan Jatuh di atas Genteng Sampai Anda Berbuat

 Untuk menunjukkan kekuatan ‘action’ ijinkan saya menceritakan pengalaman saya.

Dalam sebuah kesempatan memberikan pelatihan kepemimpinan, saya memegang uang 100 ribu rupiah. “Siapa yang ingin uang 100 ribu rupiah, silakan ambil uang ini!”, begitu saya menawarkan kepada para peserta pelatihan. Tak seorangpun mengacungkan jarinya. Saya tetap tenang berdiri sambil memegang uang itu. Setelah cukup lama diam, tiba-tiba seseorang berdiri, berjalan kearah saya dan mengambil uang itu.

Setelah orang itu duduk, saya bertanya kepada peserta, “Apa yang membuat orang ini mendapatkan uang 100 ribu rupiah? Ya, dia telah berbuat. Dia telah berdiri dan meraih uang yang saya tawarkan itu. Jika demikian, berbuat adalah kunci bagi Anda untuk mendapatkan apa yang Anda inginkan. Anda harus beraksi. Dan dalam banyak hal, lebih cepat lebih baik”.

Saya kemudian bertanya lagi kepada para peserta, “Mengapa Anda sekalian tidak segera maju untuk mengambil uang yang saya tawarkan?” Inilah beberapa jawaban mereka:

“Saya pikir Anda hanya main-main”

“Saya tidak ingin kelihatan rakus”

“Saya duduk di belakang”

“Saya khawatir saya akan dikerjain dan akan ditertawakan orang-orang”

“Saya pikir Anda akan memberi instruksi lagi yang lain untuk sebuah permainan”.

 

Begitulah, pada umumnya, alasan-alasan inilah yang akan membuat kita berhenti berbuat dan beraksi. Dalam kehidupan nyata juga demikian. Tidak ada aksi tidak ada rejeki. Tidak ada aksi tidak ada karier yang tinggi. Tak ada aksi tidak dapat mengembangkan profesi. Tidak ada aksi tidak dapat makanan yang bergizi. Tidak ada aksi tidak akan mendapatkan istri yang seksi. Tidak ada aksi tidak akan mendapatkan suami yang dapat menghargai. Dan yang jelas, jika ada aksi tidak akan nada ‘harta karun’ yang akan jatuh otomatis di atas genteng kehidupan kita.

 Belajar Dari Para Penembak

 “Siap, bidik, tembak !!”, para penembak ulung itu berteriak.

Dalam meniti kesuksesan Anda dapat meniru strategi para penembak: siap, bidik dan tembak. Batu penghalang kesukesan biasanya kita terlalu lama menetapkan sasaran bidik dan tidak pernah menembak. Kita sudah menetapkan visi, strategi dan metodologi. Namun tidak lekas beraksi. Jalan tercepat untuk mencapai sasaran bidik adalah dengan menembak. Demikian juga, jalan tercepat untuk mencapai rencana dan visi adalah aksi. Jangan lama-lama menyiapkan bidikan. Cepat tembak! Kalau tembakan Anda melesat satu inci di atas sasaran, tembak lagi. Teruslah menembak. Teruslah berbuat. Perbaiki jika melakukan kesalahan. Yakinlah, Anda pasti akan  menembak sasaran secara tepat. Percayalah, Anda akan mendapatkan apa yang sudah Anda rencanakan dengan berbuat.

 Anda Berbuat, Anda Nikmat

 Dalam ajaran agama, kita akan mendapatkan berbagai kenimatan Tuhan jika kita selalu meningkatkan kualitas taqwa kita. Kenikmatan adalah ujud kepuasan akan prestasi yang telah diperbuat.

Bahasa Inggris dari kata kepuasan adalah satisfaction. Menariknya, dalam bahasa lain kata latis bermanka ‘cukup’. Ini mengajarkan sebuah pemahaman bahwa enough action akan membawa satisfaction. Betul, jika Anda berbuat, Andapun akan nikmat. Anda kerja keras, Andapun puas. Anda memakai kemampuan, Andapun nyaman. Itu saja.

 Jangan Hanya Menunggu Dong !

 Ayo bangun!

Jangan hanya menunggu:

Jangan menunggu sampai Anda sempurna.

Jangan menunggu sampai inspirasi datang.

Jangan menunggu orang lain untuk melakukan perubahan.

Jangan menunggu pasangan hidup Anda untuk memperbaikai komunikasi Anda berdua.

Jangan menunggu seseorang untuk datang dan memberi pekerjaan Anda.

Jangan menunggu kesehatan datang dengan sendirinya.

Jangan menunggu seseoran datang dan meningkatkan pengetahuan Anda.

Jangan menunggu tua untuk lebih mendekat kepada Tuhan.

Jangan menunggu anak-anak untuk membuka komunikasi dengan Anda.

Jangan menunggu petugas perpustakaan keliling datang untuk menjadi manusia pembelajar.

Maju jalan! Lekaslah berbuat!

Gunakan Masukan Untuk Kemajuan Anda

Alkisah, disebuah kerajaan, raja memiliki sebuah batu permata yang indah. Raja ingin memberikan batu permata tersebut untuk hadiah ulang tahun permaisurinya. Namuns sayang, sebelum diberikan batu itu jatuh ke lantai dan tergores cukup dalam.

Raja sangat sedih. Dipanggilnya seluruh ahli permata dari seantero kerajaan untuk memperbaiki permata yang tergores itu. Sayangnya, tak seorang ahlipun mampu melakukannya. Rajapun kemudian membuat sayembara. “Barangsiapa dapat memperbaiki batu pertama yang tergores maka saya akan memberikan segepok uang emas”, demikian pengumuman sang raja.

Seseorang yang sudah renta dan bongkok ikut sayembara. “Saya tidak dapat memperbaiki permata yang retak itu, Paduka. Tetapi saya dapat membuatnya menjadi lebih bagus”, kata orang tua itu. “Baiklah, silakan coba”, kata raja. Orang tua itupun kemudian memahat batu permata yang sudah tergores itu menjadi sebuah bentuk bunga mawar yang indah. Mawar permata itupun diserahkan kepada raja. Raja merasa sangat senang dapat memberikan hadiah ulang tahun yang sangat indah kepada sang permaisurinya. Sesuai dengan janji, raja itu memberi hadiah segepok uang emas kepada orang tua itu.

Demikianlah sebuah kisah yang pernah diceritakan oleh Andri Wongso. Seperti batu permata yang tidak sempurna, kita – manusia – juga jauh dari kesempurnaan. Manusia adalah makhluk yang tidak lepas dari segala kelemahan. Namun demikian, terkadang kita tidak dapat melihat apa kelemahan kita. Ketika kita merasa sulit untuk melakukan evaluasi diri, masukan dari orang lain sangat diperlukan.

 Nah, setelah Anda ‘take action’ kini saatnya bagi Anda untuk mendapatkan masukan dari orang lain. Dengan masukan dan kritik, Anda akan mendapatkan data, bantuan, nasihat, arahan, saran dan rekomendasi. Bahkan kritik yang tajampun akan membantu Anda untuk melangkahkan tapak kemajuan Anda sembari meningkatkan pengetahuan, kemampuan, sikap dan hubungan Anda dengan orang lain.

 Ada Dua Jenis Masukan

 Ada dua macam masukan yang akan Anda hadapi: positif dan negative. Yang pasti, Anda akan lebih menyukai masukan yang positif, misalnya pujian, penghormatan, kepuasan dari pelanggan, penghargaan dan kesenangan yang dirasakan oleh orang lain terhadap Anda. Masukan positif biasanya terasa nyaman. Masukan positif memberitahu Anda bahwa Anda sudah berjalan di atas rel yang benar.

Sebaliknya, kebanyakan orang tidak menyukai masukan yang negatif seperti keluhan, kritikan, evaluasi yang buruk dan ketidaknyamanan pelanggan. Namun jangan abai terhadap masukan negative. Sama dengan masukan positif, masukan negative akan menyediakan data dan gambaran bagi Anda. Data itu memberi gambaran kepada kita bahwa kita belum berada pada rel yang benar. Kita masih mengerjakan hal  yang salah. Dan ini adalah informasi yang sangat berharga untuk meraih kemajuan, bukan?

Pertanyaan untuk Anda: Apakah Anda benci masukan yang negative? Saya sarankan jangan. Bahkan kalau Anda sudah terlanjur benci, saya sarankan ubahlah sikap membenci menjadi menyukai masukan yang negative. Bagaimana caranya mengubah paradigm ini? Ubahlah pikiran negative Anda tentang masukan negatif. Ciptakan pemikiran bahwa masukan negatif adalah ‘kesempatan Anda untuk tumbuh, maju berpacu dan melaju’. Munculkan dialog-dialog positif dan konstruktif dalam pikiran Anda. “Masukan negatif dapat memperpaiki cara yang melakukan pekerjaan”. “Masukan negatif dapat memperbaiki saya dalam membina hubungan dengan orang lain”. “Masukan negatif dapat membantu saya memetakan kelemahan saya dan dorongan untuk memperbaiki”. “Masukan negatif dapat membuat saya bertambah penghasilan, bertambah relasi, bertambah tingkat penjualan, dan bertambah sukses dalam segala bidang”.

Untuk itu, jika orang lain memberikan masukan negatif kepada Anda, dengarkan, terimalah, pelajari dan gunakan sebagai pendorong untuk memperbaiki diri.

 Cara bijak merespon masukan

 Dalam kesempatan memberikan training pengembangan diri, saya menyuruh dua orang peserta untuk menjadi sukarelawan. Saya menutup mata salah seorang dengan kain hitam. Kemudian saya menempatkan orang yang ditutup matanya di sebuah pojok ruangan. Peserta yang tidak ditutup matanya saya tempatkan di sebuah pojok ruangan yang lain. Tugas dari peserta yang ditutup matanya adalah mencari peserta yang tidak ditutup matanya sampai ketemu. Agar mudah dalam mencari posisi temannya, peserta yang tidak ditutup matanya dapat memberi petunjuk. Pertama, orang itu dapat meneriakkan kata ‘tepat’ jika peserta yang ditunjuk matanya menuju ke arahnya. Kedua, orang itu harus mengatakan ‘tidak tepat’ jika peserta yang ditutup matanya itu salah arah. Begitulah, setelah kira-kira berjalan 5 menti akhirnya orang itu dapat menemukan posisi temannya.

Masukan dari orang lain bekerja sama persis dengan permainan yang saya berikan dalam training seperti kisah di atas. Bayangkan, orang yang ditutup matanya adalah Anda. Orang yang tidak ditutup matanya adalah tujuan yang hendak Anda capai. Untuk meraih tujuan yang Anda capai (posisi orang tersebut) Anda akan mendapatkan masukan di tengah perjalanan. Masukan itu dapat bersifat positif (‘tepat’). Masukan bisa jadi bersifat negatif (‘tidak tepat’). Namun, masukan positif dan negatif adalah baik bagi Anda. Apa jadinya jika Anda hanya menyukai masukan positif; sanjungan, pujian, dan penghargaan tetapi membenci masukan negatif; kritikan dan keluhan? Apa jadinya jika orang yang tidak ditutup matanya tidak pernah mengatakan ‘tidak tepat’ kepada orang yang ditutup matanya? Sudah pasti, orang yang ditutup matanya tersebut tidak akan dapat mencapai posisi orang yang tidak ditutup matanya. Sudah jelas, kita juga tidak dapat mencapai tujuan dan cita ketika kita membenci masukan-masukan yang negatif. Pelajarannya: responlah segala masukan dengan tangan terbuka, hati yang rela dan akal yang merdeka. Ya, baik itu masukan yang positif maupun masukan yang negatif.

 Hindari cara buruk dalam merespon masukan

 So pasti, Anda dapat memberikan respon terhadap masukan dengan berbagai cara. Namun Anda harus menghindari beberapa cara merespon yang buruk berikut ini:

  1. Mengeluh dan lari: Dalam permainan training yang saya ceritakan di atas, saya mendapati bahwa orang yang ditutup matanya terkadan mengeluh: “Wah susah ya”. “Payah, sulit banget sih”. “Kayaknya akan lama nih”. Dalam kesempatan training yang lain, malah saya pernah mendapati seseorang menyerah setelah sekian lama tidak menemukan posisi orang yang dicari. Sekarang kita lihat dalam kehidupan nyata. Berapa kali Anda atau orang yang Anda kenal mengeluh atas berbagai kritikan? Berapa kali Anda atau orang yang Anda tahu menyerah setelah dihujani berbagai kritikan tajam? Kalau kita mau jujur, jumlah orang yang mengeluh dan menyerah setelah dibombardir kritikan cukup banyak. Yang Anda perlukan sebenarnya adalah strategi yang sederhana. Responlah kritikan dan masukan negatif dengan cara positif. Buanglah pikiran bahwa kritik adalah serangan terhadap Anda. Ciptakan pikiran bahwa kritik dan masukan negatif adalah sekedar informasi bagi Anda. Agaknya analogi yang tepat adalah pesawat udara. Tahukah Anda bahwa setiap pesawat terbang modern dilengkapi dengan sistem pilot yang otomatis. Sistem ini akan memberitahukan kepada pilot apakah pesawat terbang terlalu tinggi atau terlalu rendah. Nah, persis seperti pesawat udara, anggaplah kritikan dan masukan negatif seperti sistem pilot otomatis. Sistem ini akan mengarahkan, memberitahukan jika Anda salah, dan memperbaiki kinerja dan performa Anda.
  2. Marah pada si pemberi masukan: Berkacak pinggang. Muka memerah. Mata mendelik. Jantung berdegub lebih kencang sambil menunjuk si pemberi masukan dan mencaci maki dengan kata-kata kasar. Inilah salah satu cara merespon masukan yang salah: marah-marah kepada si pemberi masukan. “Apa kau bilang? Ngomong memang mudah. Kamu bisanya cuma mengeritik”. Begitulah kira-kira reaksi orang yang marah-marah ketika menerima kritik atau masukan negatif. Sebenarnya, marah-marah kepada si pemberi kritik tidaklah efektif. Mungkin sikap marah akan membuat Anda merasa lebih baik. Tapi ini hanya sementara. Selebihnya, Anda akan kehilangan masukan yang sangat berharga untuk membuat Anda lebih baik.
  3. Mengabaikan masukan negatif: Cobalah ingat kembali permainan yang saya berikan dalam training pada awal tulisan ini. Bayangkan jika orang yang ditutup mata itu menutup telinganya ketika orang yang hendak dicari berkata “tidak tepat”. Bayangkan juga dalam kehidupan kita, bagaimana jadinya jika kita tidak mau mendengar dan mengabaikan masukan negatif dan kritik? Tentu kita akan menjadi pendengar yang buruk. Lebih dari itu kita tidak tertraik dengan pandangan orang lain. Kita hanya asyik dengan pendapat kita sendiri. Kita menganggap pendapat kitalah yang terbaik. Dan ini beritu buruk. Kita tidak akan mendapatkan bahan-bahan dan informasi mengenai kelemahan kita. Akibatnya fatal. Kita tidak dapat memperbaiki diri!

 Carilah masukan dengan bertanya

 Setelah saya memberikan permainan ‘tutup mata’ di awal tulisan ini saya memberikan permainan kedua kepada peserta pelatihan. Setelah semua peserta saling kenal satu sama lain, saya menyuruh semua peserta untuk berdiri. Lalu saya menyuruh mereka untuk bertanya kepada sebanyak mungkin peserta lain. Pertanyaan yang harus mereka ucapkan adalah “Menurut Anda apa yang perlu saya perbaiki dari diri saya?”. Setelah mereka bertanya selama 30 menit kepada sebanyak mungkin orang saya mempersilakan peserta untuk duduk dan mencatat semua masukan dari peserta lain. Hasilnya luar biasa. Setiap orang dapat mengetahui kelemahan dan aspek-aspek apa yang perlu diperbaiki dari dirinya. Masukan-masukan dan kritik dari peserta lain dapat dijadikan sebagai ‘kebiasaan sukses’ yang baru yang dapat diterapkan oleh peserta yang bersangkutan.

Inilah kekuatan luar biasa dari bertanya. Ya, Anda harus membiasakan untuk mencari masukan dengan bertanya: “Menurut Anda apa yang perlu saya perbaiki dari diri saya?”.

 Ya, bertanyalah untuk mencari masukan dalam berbagai kesempatan

 Sudah pasti banyak orang yang tidak akan memberikan masukan kepada secara sukarela. Kenapa saya berani memastikannya. Ya, memberi masukan sangat beresiko bagi si pemberi masukan. Secara alami orang akan mempertahankan diri ketika diberi masukan. Terkadang banyak yang akan tersinggung dan marah ketika diberi masukan. Hubunganpun menjadi tidak manis. Komunikasi menjadi tidak manis. Percakapan berubah menjadi sadis.

Seorang figur yang suka mencari masukan dari orang lain adalah Bapak Prof. Dr. Ahmad Mursidi. Suatu hari, ketika Pak Mursyidi masih menjabat rektor UMY, beliau mengumpulkan para staff untuk mengadakan rapat. Yang sangat menarik adalah ketika tiba-tiba beliau bertanya kepada para pejabat structural universitas: “Jika Anda menjadi rektor, apa yang akan Anda lakukan?”. Pak Mursyidi kemudian membagi secarik kertas kepada semua peserta rapat untuk menjawab pertanyaan yang dikemukakan tadi. Sang Profesorpun mendapatkan masukan yang banyak sekali untuk memperbaiki performa kepemimpinannya.

Seperti Profesor Mursyidi, Anda tidak akan mendapatkan masukan secara sukarela dari orang lain. Dan ini masalah. Solusinya, Anda perlu memberikan pertanyaan-pertanyaan untuk mendapatkan masukan dari orang lain. Pertanyaan itu dapat Anda poles sehingga orang lain tidak akan enggan untuk memberikan masukan. Dalam contoh di atas, Pak Mursyidi menggunakan sebuah pertanyaan yang sudah dipoles: “Jika Anda menjadi rektor, apa yang akan Anda lakukan?”. Orang lain akan dengan enak memberikan masukan atas pertanyaan ini. Pertanyaan lain yang dapat Anda ajukan: “Menurut Anda apa yang perlu saya perbaiki dalam komunikasi (atau menurut bidang yang Anda tanyanan seperti presentasi, laporan, kepemimpinan, manajemen keuangan saya?) Yakinlah, masukan-masukan ini akan sangat berguna dalam membantu Anda untuk memperbaiki setiap aspek dari kinerja Anda.

 Sebuah pertanyaan sederhana yang luar biasa, cobalah !

 Setelah selesai memberikan training saya selalu memberikan sebuah pertanyaan tertulis kepada setiap peserta. Pertanyaan itu berbunyi:

“Dalam skala 1 sampai 10, berapakah nilai yang akan Anda berikan untuk presentasi pelatihan yang telah saya lakukan?”

Tidak hanya itu. Saya pun juga menanyakan: “Jika Anda tidak memberikan nilai 10, apa yang harus saya lakukan untuk mencapai nilai 10?”

Dengan pertanyaan ini, saya sebenarnya sedang mencari masukan dari para peserta training. Dan hasilnya luar biasa, dengan jawaban para peserta, saya dapat mengetahui kelemahan saya dalam memberikan training. Sayapun mendapatkan berbagai masukan yang berharga atas kelemahan saya dalam memberikan training.

Dan pertanyaan yang luar biasa ini tidak hanya diberikan kepada peserta training. Andapun dapat memberikan pertanyaan serupa dalam berbagai konteks untuk mendapatkan masukan:

  • Kepada istri atau suami Anda dapat bertanya: “Dalam skala 1 sampai 10 berapa kamu akan memberikan nilai pada kualitas hubungan kita?”.
  • Jika Anda seorang manajer, kepada anak buah Anda di kantor Anda dapat bertanya: “ Dalam skala 1 sampai 10, berapa Anda menilai kualitas komunikasi saya?”
  • Jika Anda seorang guru, kepada para murid, Anda dapat bertanya: “Dalam skala 1 sampai 10, berapa Anda menilai kualitas mengajar saya di kelas?”

Ingat, pertanyaan ini belum cukup. Sekali lagi, jika Anda tidak mendapatkan nilai 10 berikan satu pertanyaan lagi:

  • “Agar dapat mencapai nilai 10, apa yang harus saya lakukan?”

Mengapa Anda perlu memberi pertanyaan yang kedua? Ya, disinilah letak kekuatan puncak dari dua pertanyaan Anda. Mengetahui bahwa seseorang tidak puas dengan kinerja kita tidaklah cukup. Dengan mengajukan pertanyaan di atas, Anda akan mengetahui bagaimana agar orang tersebut merasa lebih puas. Dengan pertanyaan kedua, Anda sebenarnya sedang menggali masukan dan gagasan yang berharga bagi perbaikan diri Anda, produk Anda, hubungan Anda dan pelayanan Anda.

 JADIKAN BERTANYA SEBAGAI RITUAL SEHARI-HARI

 Saya selalu mengajukan pertanyaan di atas setiap malam minggu kepada istri saya:

“Ma, berapa Mama akan memberi nilai pada kualitas hubungan kita?”.

“Tujuh”, jawab istri saya.

“Apa yang harus saya lakukan agar Mama dapat memberikan nilai 10 untuk kualitas hubungan kita?”, tanya saya lagi.

“Bantu saya mengajari anak-anak dalam belajar, mencuci piring dan gelas setelah makan, dan jangan menaruh pakaian sembarangan sehabis dipakai”, kata istri saya.

Nah, ternyata pertanyaan ini dapat mendorong istri saya memberikan masukan untuk meningkatkan kualitas hubungan kami. Dengan pertanyaan ini sayapun mendapatkan masukan untuk menjadi suami lebih baik.

 

Sayapun melakukan ritual bertanya dengan pertanyaan ini kepada staf saya:

“Pak Bowo, berapa nilai yang akan bapak berikan kepada saya dalam menunaikan tugas sebagai pemimpin di sini?”.

“Delapan, Pak?”, ujar staf saya.

“Apa yang harus saya lakukan agar saya dapat mendapatkan nilai 10?”, tanya saya lagi.

“Bapak sebaiknya masuk pada jam 8 seperti kami, karyawan. Dan Bapak perlu menyempatkan lebih banyak waktu dengan kami”, jawab staf saya.

Jawaban ini kemungkinan besar tidak nyaman untuk saya dengarkan. Namun dari jawaban itu, saya dapat memperbaiki kualitas saya sebagai pemimpin.

 JADIKAN BERTANYA SEBAGAI HOBI ANDA

 Bisa jadi, sebagian besar orang takut bertanya, “Dari skala 1 sampai 10, berapa nilai yang akan Anda berikan kepada saya?”. Sebagian besar orang takut akan kritik dan masukan yang tidak mengenakkan. Sebagian besar orang takut jika dirinya diketahui kelemahannya.

Sebenarnya, tidak ada yang perlu Anda takutkan. Kebenaran tetaplah kebenaran. Anda akan lebih baik mengetahui kebenaran daripada tidak mengetahuinya. Anda akan lebih baik jika Anda mengetahui kelemahan Anda daripada tidak mengetahuinya. Setelah Anda mengetahui ada yang tidak beres, Anda dapat memperbaikinya. Dengan bertanya Anda akan mendapatkan masukan. Dengan masukan Anda dapat memperbaiki produk Anda, kualitas hubungan Anda, mutu komunikasi Anda, pelayanan Anda, pengetahuan Anda dan ketrampilan Anda.

Malas mencari masukan dengan bertanya tampak terasa nyaman. Anda tidak akan mendengar kritik. Anda tidak akan mendengar masukan negatif. Anda juga tidak akan mengetahui kelemahan Anda. Sebenarnya, yang demikian ini adalah zone nyaman yang harus Anda tinggalkan. Apa kerugian berada dalam zone nyaman seperti itu?

Kerugiannya sangatlah berat, tidak nikmat dan dahsyat. Coba bayangkan, Anda tidak pernah bertanya kepada pelanggan Anda tentang kualitas pelayanan karyawan Anda kepada mereka. Ternyata, para pelanggan Anda tidak puas terhadap sikap para karyawan Anda. Mereka menganggap bahwa karyawan Anda judes dan tidak ramah. Karena Anda tidak bertanya, Anda menganggap bahwa segala sesuatunya beres. Namun Anda terhenyak ketika para pelanggan itu mememberitahukan informasi yang jelek kepada banyak orang tentang perusahaan Anda. Nah, karena Anda tidak mau bertanya, Anda dan organisasi Anda sendirilah yang mengalami kerugian, kan? Ada dua solusi untuk masalah ini.

Pertama, dalam setiap area kehidupan Anda, bersikaplah aktif untuk bertanya kepada orang lain untuk mencari masukan. Tanyakan istri Anda, suami Anda, teman Anda, tetangga Anda, rekan kerja Anda, bos Anda, karyawan Anda, klien Anda, anak Anda, orang tua Anda, guru Anda, dosen Anda, murid Anda dan mahasiswa Anda. Seringlah bertanya untuk mencari masukan. Jadikan pertanyaan berikut menjadi kebiasaan sehari-hari Anda:

  • “Di antara skala 1 sampai 10, berapa nilai yang akan Anda berikan pada……..saya?” (titik-titik dapat Anda isi sesuai dengan masukan apa yang ingin Anda cari)
  • “Untuk mendapatkan nilai 10, apa yang harus saya lakukan?”

Kedua, ucapkan terima kasih. Janganlah bersikap defensif. Jangan lancarkan kuda-kuda untuk membela diri setelah mendapatkan masukan negatif dan kritik yang sensitif. Sebaliknya ucapkan, “Terimakasih atas perhatian Anda dan masukan Anda kepada saya!”. Jika Anda selalu berterimakasih atas masukan, Anda akan membangun reputasi Anda sebagai orang yang terbuka. Ingat, segala masukan baik positif maupun negatif adalah hadiah orang lain kepada Anda. Hadiah itu akan menolong Anda menjadi orang yang lebih baik.

 DENGARKAN MASUKAN DAN BUANGLAH EGO !

 Untuk mengakhiri bab ini ijinkan saya bertutur sebuah kisah khalifah Harun al-Raysyid dari daulah Abbasiyah. Sang khalifah memanggil seorang tahanan bernama Abdul Malik bin Shalih. Datanglah sang tahanan memberi hormat kepada khalifah.

Sang khalifah pun bertanya kepada tahanan tersebut, “Aku melihat matamu seperti menangis. Jangan takut, aku tidak akan memberi ancaman atau membunuhmu”. Tidak hanya itu. Sang khalifahpun berkata lagi, “Apa yang akan kau minta atau kau pesankan kepadaku”.

Dengan hati lega, sang tahanan berkata, “Saya tidak meminta apapun Khalifah. Saya haya berpesan agar kekuasaan sang Khalifah mampu membawa kejayaan Islam. Perhatikan orang-orang di sekelilingmu. Jangan sampai Tuan dikhianati mereka. Perhatikan rakyat karena mereka adalah tanggungjawabmu”.

Luar biasa. Bayangkan, seorang khalifah besar seperti Harun al-Rasyid meminta masukan dari seorang tahanan. Lebih luar biasa lagi, Sang Khalifah dengan tekun mendengarkan masukan dari tahanan tersebut.

Sang Khalifah telah menunjukkan sebuah jiwa besar. Dengan membuang ego dan posisi khalifahnya, Sang Khalifah bersedia untuk mendengarkan nasehat dan masukan dari seorang tahanan.

Para pemenang sejati, apakah Anda akan bertanya atau tidak, masukan akan datang kepada Anda dalam bermacam bentuk. Masukan mungkin berbentuk obrolan dari teman. Mungkin surat somasi. Bisa jadi surat teguran. Mungkin kritikan ari atasan Atau barangkali keluhan dari pelanggan Anda.

Seperti sikap Khalifah Harun al-Rasyid, apapun bentuk masukan, adalah penting bagi Anda untuk mendengarkan masukan. Dan strategi Anda cukup sederhana: dengarkan! Jika masukan tersebut bersifat negatif dan kritik, tetaplah mendengarkan. Hindarilah untuk berpikir, “Ah, orang ini crewet, bisanya cuma ngritik” atau, “Ah, saya tidak suka sama orang ini, terlalu banyak bicara”. Sambil mendengar, kembangkan pikiran positif, “Mungkin benar apa yang dikatakan oleh orang ini”. Dengan kemampuan mendengar yang prima disertai dengan pikiran yang terbuka, kesempatan untuk memperbaiki  ada di depan Anda.