Percayalah, Anda Bisa !

 Allah menciptakan manusia dalam keadaan yang sebaik-baiknya (Qur’an)

Oleh: Endro Dwi Hatmanto, MA

 Jika Anda ingin mimpi dan harapan Anda tercapai, Anda harus percaya bahwa Anda memiliki kekuatan untuk mewujudkannya.

Anda harus percaya diri bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan dengan segenap potensinya. Tuhan telah menciptakan ‘perangkat keras fisik’ dengan sempurna. Tuhan telah menginstal ‘perangkat lunak’ spiritual, intelektual dan emosional pada diri kita tanpa cela. Tuhan telah mengarsiteki manusia dengan bakat dan ketrampilan agar kita dapat mencapai obsesi, harapan dan cita.

 Percaya Diri Adalah Pilihan

 Kita sering menganggap bahwa percaya diri adalah sikap yang ditakdirkan. Di lain kali kita sering berpikir bahwa kepercayaan diri ditumbuhkan oleh budaya kita, lingkungan kita dan keluarga kita. Memang, ada pengaruh dari faktor-faktor ini yang akan membentuk kepercayaan diri kita. Namun ini tidak mutlak.

Sama dengan sikap dan perilaku lainnya, sebenarnya percaya diri adalah sebuah pilihan. Percaya diri adalah sikap yang Anda bangun dalam kehidupan. Membangun kepercayaan diri berada dalam lingkar control Anda. Anda harus memilih untuk yakin bahwa Anda dapat mengerjakan apa yang Anda citakan, karena Anda memang bisa. Hasil penelitian neurofisiologi terkini mengindikasikan bahwa berbicara positif dengan diri sendiri dan visualisasi positif disertai denga pelatihan dan praktek akan memberi optimisme baru bahwa Anda bisa!

“Saya memang tidak memiliki bakat dan kemampuan terbaik dalam bidang ini. Namun demikian, saya yakin bahwa saya dapat mencapai target-target saya”. Inilah sikap yang pada umumnya dimiliki oleh orang-orang yang percaya diri. Sikap ini misalnya ditunjukkan oleh Hellen Keller.


Sefl-fulfilling Prophecy

 Jiwa kita memang memiliki apa yang dalam bahasa Inggris disebut sebagai ‘self-fulfilling prophecy’. Penjelasannya begini. Jika Anda berasumsi bahwa segala yang akan Anda kerjakan mungkin, maka energi yang besar dalam diri Anda akan muncul dalam mencari strategi untuk mewujudkannya. Sebaliknya, jika Anda sudah berpikir bahwa itu tidak mungkin, maka energi Andapun mati. Kemampuan Anda tidak akan terberdayakan untuk mewujudkan potensi. Cita-cita berhenti. Harapanpun tinggal mimpi.

Saya akan membuktikan konsep ini dengan kisah nyata. Dalam kesempatan memberikan training kepada para pegawai pemda, saya melempar sebuah pertanyaan,”Siapa yang setuju jika penjara kita hapuskan di Indonesia?” Anda tahu berapa orang yang mengacungkan jarinya? Tidak ada! Semua tidak setuju jika penjara dihapuskan. Banyak alasan yang mereka kemukakan. “Wah, nanti akan ada lebih banyak penjahat”. “Kejahatan akan semakin besar”. “Tidak adil dong, masa orang yang berbuat jahat tidak kita hukum”.

Perhatikan, para peserta training telah memasang kuda-kuda ketidakmungkinan dalam pikirannya. Tidak mungkin penjara dihapuskan! Karena pikiran sudah dikondisikan ‘tidak bisa’ mereka tidak mencari cara agar penjara dapat dihapuskan. Alhasil, pintu kreatifitas tertutup. Ide segar terkatup. Inovasi tak bisa meletup.

Mengamati pesimisme dari para peserta, saya mengubah kondisi peserta training. “Sekarang, baik Anda setuju maupun tidak, kondisikan bahwa kita harus percaya bahwa penjara bisa dihapuskan”, kata saya kepada para peserta. Lalu saya bagi peserta dalam kelompok kecil. Dengan secarik kertas, saya menyuruh agar para peserta menulis ide-ide dan gagasan agar penjara dapat dihapuskan di Indonesia.

Anda akan kaget melihat hasilnya. Para peserta dengan bugar memeras pikiran mencari ide-ide segar, dengan antusias menuliskan ide-ide cerdas. Hasilnya menakjubkan. Selusin solusi mereka tawarkan. Inilah sebagian dari gagasan-gagasan yang mereka ajukan agar penjara dapat dihapuskan di Indonesia:

  •  Ciptakan lapangan kerja.
  • Tingkatkan pendapatan masyarakat.
  • Tingkatkan pendidikan agama.
  • Perkuat peran keluarga sebagai institusi pendidikan moral.
  • Bangun pelatihan-pelatihan kerja.
  • Ciptakan kurikulum yang menguatkan moral dan akhlak.

Luar biasa. Lepas dari implementatif dan tidaknya menghapus penjara, pikiran ‘aku bisa’ dapat melahirkan segudang gagasan, menghasilkan selusin saran, dan memproduksi sederet harapan.

 Maka, Anda Harus Menyingkirkan Kata “Aku Tidak Bisa”

 Sudah saatnya Anda menyingkirkan kata “aku tidak bisa” dari kosakata kehidupan Anda. Kalimat ini akan merusak, mendepak, dan menginjak optimisme Anda dalam mengejar cita. “The phrase “I can’t” is the most powerful force of negation in the human psyche”, demikian kata Paul R. Scheele, CEO dari Learning Strategies Corporation. Ya, kalimat “Aku tidak bisa” adalah kekuatan penghambat yang paling dahsyat nan jahat yang terkadang sering kita jadikan jimat padat dalam menghadapi hidup yang berat.

Saya sudah menunjukkan kekuatan penghambat dari kata ‘aku tidak bisa’ dalam persoalan ‘menghapus penjara’ dalam sub bab terdahulu. Kisah yang hampir mirip pernah ditunjukkan oleh Jack Canfield dalam sebuah training.

Dalam sebuah sesi pelatihan penulis buku terlaris ‘Chicken Soup’ ini menyuruh para peserta training untuk mengangkat tangan kanannya sejajar dengan bahu. Dalam sesi pertama, para peserta disuruh mengucapkan kata “saya tidak bisa bermain piano”. Ketika para peserta mengucapkan kalimat itu, Jack Canfield menekan tangan mereka ke bawah. Canfiled melaporkan bahwa kekuatan tangan mereka sangat lemah. Dengan mudah Canfield menekan tangan-tangan itu ke bawah.

Pada sesi kedua, peserta masih harus mengangkat tangan sejajar dengan pundak. Tapi kali ini mereka harus mengucapkan ‘saya bisa bermain piano’. Jack Canfield kemudian menekan tangan-tangan para peserta. Canfield merasakan bahwa tangan-tangan itu berubah menjadi lebih kuat dalam menahan tekanan. Terbukti, kata-kata ‘aku tidak bisa’ sangat melemahkan semangat. Sebaliknya, kata ‘aku bisa’ memperkuatnya.

 Ya, Jangan Habiskan Waktu Anda Untuk Berpikir ‘Aku Tidak Bisa’

 Dalam bukunya 100 Orang Paling Berpengaruh di Dunia Michael Hart menempatkan Nabi Muhammad pada peringkat pertama sebagai orang yang paling sukses di dunia. Bagi Michael Hart, Nabi Muhammad adalah tokoh yang sukses dalam segala bidang; material, politik, kemayarakatan dan kehidupan spritiual. Pengaruh yang dimunculkan menggema di dada jutaan manusia. Namanya terus disebut setiap hari oleh miliaran manusia di dunia. Ajarannya ditulis dalam ribuan buku.

Apakah rahasia kesuksesan Nabi Muhammad? Nabi adalah seorang pekerja keras. Kesukesan tidak beliau anggap sebagai ‘taken for granted’ dari Tuhan yang kuasa. Dengan kata lain, kesuksesan tidak diberikan oleh Tuhan begitu saja. Beliau harus menahan cacian, hinaan, hardikan, siksaan. Beliau harus berjuang. Beliau menumpahkan banyak keringat, bahkan darah. Satu yang pasti, keberhasilan nabi Muhammad diniscayakan oleh satu prinsip: beliau tidak menghabiskan waktu untuk berpikir ‘aku tidak bisa’.

Prinsip inilah yang dipeluk juga oleh manusia-manusia sukses seluruh dunia. Thomas Edison pernah gagal lebih dari 900 kali dalam menemukan bola lampu. Dan pada penelitian yang ke 1000 lah dia dapat memetik hasil temuan penting itu. Dan sampai saat ini, temuan Thomas Edison menerangi manusia seluruh dunia. Apa kunci kesukesan Thomas Edison: Dia tidak menghabiskan waktu untuk berpikir ‘aku tidak bisa’.

 Tidak Harus Menjadi Sarjana

 Perhatikan sebuah statistic yang menarik berikut ini:

  • 20 % dari orang-orang yang terkaya di Amerika tidak pernah merasakan bangku kuliah.
  • 21 orang dari 222 orang-orang Amerika yang memiliki kekayaan trilyunan pada tahun 2003 tidak memiliki gelar kesarjanaan.
  • 2 orang di antaranya tidak lulus dari SMA (Canfield, 2007).

Bahkan di era internet sekarang ini, beberapa perusahaan top dunia yang bergerak di bidang teknologi informasi dan internet dipegang oleh orang-orang yang tidak tamat dari universitas. Larry Ellison, CEO dari Oracle, drop out dari universitas Illionis. Dan pada saat bagian ini ditulis, Ellison memiliki kekayaan sebear 18 triliun. Bill Gates juga keluar dari universitas Havard sebelum lulus. Dan sekarang Bill Gates menjadi orang yang terkaya di dunia dengan kekayaan sebesar 46 triliun.

Banyak dari orang-orang sukses di Indonesia yang juga tidak sempat mengenyam pendidikan tinggi. ……adalah salah satu contohnya.

Dengan statistic ini, saya tidak bermaksud untuk mendorong Anda untuk tidak kuliah atau keluar dari kuliah. Pendidikan tentu sangat penting di era yang kompetitif ini. Saya hanya ingin menyampaikan pesan bahwa gelar kesarjanaan itu bukan segalanya. Saya hanya ingin mengatakan bahwa selain pendidikan, ada satu faktor lagi yang sangat penting dalam mendorong kesuksesan Anda. Faktor tersebut adalah kepercayaan diri yang kuat untuk sukses. Inilah yang membuat Bill gate dan Larry Ellison menjadi CEO sukses. Kepercayaan diri juga akan menjadi faktor determinan yang akan membantuk Anda sukses. Percayalah.