Dahsyatnya Kekuatan Sikap Mental Positif

Oleh: Endro Dwi Hatmanto, MA

Ada seorang ayah yang sudah renta. Menjelang ajal, sang ayah memanggil dua anak laki-lakinya. “Anak-anakku, sebelum saya dipanggil oleh Yang Kuasa, ada dua pesan yang akan saya sampaikan. Pertama, jangan pernah menagih hutang kepada orang yang berhutang kepadamu. Kedua, jika pergi ke toko jangan sampai mukanya terkena sinar matahari”.

Roda waktu terus bergulir. Dua anak itupun terus berpikir, berjalan mondar-mandir. Hari berganti bulan dan bulan berganti tahun. Setelah beberapa tahun Sang Ayah meninggal, apa yang terjadi? Aneh! Anak yang sulung menjadi bertambah kaya. Sebaliknya, Si Bungsu semakin miskin.

Melihat perbedaan ini, ibu dari kedua anak itu penasaran dan menanyakannya kepada Si Bungsu; “Kenapa kamu bertambah miskin, Nak?”

Si Bungsu menjawab: “Ini karena saya mengikuti pesan dari Ayah. Kata Ayah, saya tidak diperkenankan menagih hutang kepada orang yang berhutang kepada saya. Sayapun tidak menagih hutang kepada orang-orang yang berhutang itu. Akibatnya fatal, Bu. Modalku semakin menipis. Hidupku semaking kembang kempis. Semua harta habis”. Sambil menghela nafas, Si Bungsu pun meneruskan: “Ayah juga berpesan agar sinar matahari jangan sapai mengenai muka saya. Ya, sayapun selalu naik taksi. Padahal sebelumnya saya terbiasa jalan kaki. Akibatnya duit pun habis terkikis. Saya hanya bisa nangis. Bisanya Cuma meringis, Bu”.

Kemudian Si Ibu menanyakan pertanyaan yang mirip kepada Si Sulung. “Mengapa kamu dapat berubah menjadi kaya”, tanya Sang Ibu.

Si Sulung pun menjelaskan: “Saya hanya menuruti pesan ayah. Ayah berpesan agar sinar matahari jangan sampai mengenai muka saya. Untuk terhindar dari sinar matahari, saya berangkat ke toko sebelum matahari terbit dan pulang setelah matahari tenggelam. Dengan cara ini, waktu saya untuk berdagang menjadi bertambah panjang. Sayapun lebih mendapatkan banyak keuntungan”.

Apa perbedaan antara sikap si Sulung dan Si Bungsu dalam merespon pesan Ayah mereka. Tampak bahwa Si Sulung mengembangkan sikap positif dalam merespon pesan ayahnya. Sebaliknya Si Bungsu merespon dengan sikap negative.

 Sikap Positif Membawa Untung; Sikap Negatif Membuat Buntung

 Tentu, cerita di atas hanyalah kisah fiktif. Namun dalam kehidupan, tidaklah sulit untuk mengatakan bahwa sikap positif banyak membawa keuntungan bagi Anda. Sebaliknya sikap negative berpotensi besar membuat Anda buntung.

Menariknya ada seorang professor yang meneliti hubungan antara keberuntungan dan sikap positif. Professor dari University of Hertfordshire Inggris itu bernama Richard Wiseman. “Apa yang membedakan antara orang-orang yang beruntung dengan orang-orang yang tidak beruntung?”. Setiap harinya, professor Wiseman tergelitik pertanyaan ini. Rasa ingintahunya meledak. Rasa penasarannya memuncak. Maka Sang Profesorpun melakukan penelitan yang dia namakan ‘Luck Project’. Profesor Wiseman kemudian merekrut responden yang terdiri dari dua kelompok orang. Responden pertama adalah kelompok orang yang merasa bahwa hidupnya selalu beruntung. Responden kedua adalah kelompok orang yang merasa bahwa hidupnya selalu sial. Mengejutkan!, ternyata orang-orang yang beruntung bertindak secara berbeda dibandingkan dengan mereka yang merasa selalu sial.

Salah satu tahap penelitiannya adalah ketika Profesor Wiseman menyuruh responden menghitung jumlah foto dalam koran yang dibagikan. Orang-orang dari ‘kelompok sial’ memerlukan waktu kira-kira dua menit untuk menyelesaikan tugas tersebut. Sementara itu, para responden dari ‘kelompok beruntung’ hanya membutuhkan waktu beberapa detik saja. Rahasianya, sementara ‘kelompok sial’ sibuk menghitung satu persatu foto yang ada dikertas, ‘kelompok beruntung’ membuka halaman sebalikna. Di situ tertulis bahwa jumlah foto dalam gambar itu ada 43. Dan tulisannya juga cukup besar. Bahkan Profesor Wiseman memberi pesan lain ditengah-tengah Koran itu: “Berheni menghitung sekarang dan bilang pada peneliti Anda menemukan ini, dan menangkan $ 250!”. Lagi-lagi, kelompok beruntung membaca pesan tadi. Sebaliknya ‘kelompok sial’ melewatkan pesan tersebut.

Hasil dari penelitian itu menarik. Ternyata, ada beberapa faktor yang membedakan orang-orang yang beruntung dengan orang-orang yang tidak beruntung. Tiga faktor sangat berhubungan dengan sikap mental yang positif:

  • Sikap terhadap peluang—Orang beruntung ternyata lebih terbuka ketika menemukan peluang. Mereka lebih sensitive akan datangnya peluang, lebih pandai menciptakan peluang dan cepat bertindak ketika peluang itu datang. Orang-orang yang beruntung juga bersikap lebih rileks, toleran dan terbuka terhadap pengalaman-pengalaman baru. Mereka lebih ‘gaul’ ketika berinteraksi dengan orang-orang yang baru dikenal. Mereka pandai membuat jaringan. Mereka lebih ramah dalam berhubunga sosial. Sebaliknya, orang-orang yang ‘sial’ leibh tegang, tertutup dan kaku dalam merespon peluang dan dalam pergaulan dengan orang lain.
  • Selalu berharap bahwa kebaikan akan datang—Orang-orang yang beruntung ternyata lebih optimis dalam berlayar mengarungi kehidupan. Mereka cenderung memiliki ‘positive thinking’. Mereka lebih menunjukkan optimism dalam menghadapi tantangan  kehidupan. Dengan kuda-kuda sikap mental yang demikian, orang-orang yang beruntung selalu melihat sinar terang diujung terowongan yang gelap. Mereka akan selalu melihat sisi positif walaupun cobaan mendera, ujian hidup menyapa, dan halangan di depan mata. Nggak percaya? Coba ujilah sendiri. Tanyakan kepada orang-orang sukses yang Anda kenal bagaimana prospek ekonomi pada tahun yang akan datang. Kemungkinan besar jawabannya adalah ‘semakin cerah’. Dan mereka akan menjawabnya dengan rasa optimis yang tinggi.
  • Mengubah hal buruk menjadi baik—Orang-orang yang beruntung sangat cakap dalam menghadapi hal-hal yang buruk. Tidak hanya itu, mereka juga memiliki kemampuan untuk mengubah hal-hal yang buruk menjadi hal-hal yang baik. Dalam satu sesi tesnya, Profesor Wiseman menyuruh para responden untuk membayangkan diri mereka sedang berada  di sebuah bank. Dan mereka juga harus membayangkan tiba-tiba bank itu dirampok oleh sekawanan penjahat bersenjata. Kedua kelompok responden diminta untuk mengemukakan reaksi mereka. Pada umumnya, rekati dari kelompok sial adalah: “Wah, saya benar-benar sial berada di bank yang sedang dirampok ini”. Sementara itu, reaksi dari kelompok beruntung adalah: “Untung saya ada di sini. Saya dapat menulis peristiwa menggemparkan ini dalam Koran. Dan sayapun akan mendapatkan honor”. Profesor Wiseman mendapati sebuah ciri khas karakter orang-orang yang beruntung. Apapun stuasinya, orang-orang yang beruntung selalu positif dan merasa untung terus.

 Sikap Positif Adalah Senjata Bagi Orang-Orang Berprestasi

 Saya telah bertemu dengan beberapa orang yang berbakat, memiliki banyak sahabat dan kekayaan yang berlipat. Namun beberapa dari mereka berprestasi biasa-biasa saja dalam kehidupannya.  “Mengapa banyak orang-orang berbakat dan pintar tersendat ditengah jalan, terintang di padang pasir perjuangan, terhambat mencapai prestasi dalam kehidupan?” Inilah pertanyaan yang biasa kita lontarkan? Jawabannya adalah sikap mental !

Setelah bertahun-tahun penelitian, manusia menjadi sadar bahwa para peraih prestasi tinggi memiliki sikap mental yang mumpuni serta motivasi yang tinggi. Magma energi menggemuruhkan daya tektonik diri yang tiada terperi. Sukses bukanlah hak prerogative orang-orang dengan IQ tinggi. Sukses bukanlah dominasi orang-orang dengan fasilitas yang memadai. Dengan restu Tuhan, sukses adalah milik orang-orang yang memiliki sikap mental positif yang tumbuh dalam diri.

Karena pentingnya sikap positif dalam kehidupan, seorang pakar motivasi, Norman Vincent Peale menitipkan nasehat kepada kita:

  • Dalam mengerjakan setiap pekerjaan, sikap mental akan menjadi salah satu faktor penentu dalam keberhasilan Anda.
  • Sikap Anda terhadap kehidupan akan mempengaruhi sikap kehidupan kepada Anda.
  • Anda adalah pengontro sikap Anda. Bukan orang lain.
  • Bangun sikap “mengapa Anda harus sukses” daripada “mengapa Anda harus gagal”.
  • Atur pikiran Anda dan Anda akan mengatur hidup Anda.

 Anda Adalah Tuan Bagi Sikap Mental Anda

 Penulis buku-buku spiritual, Charles Swindoll, pernah menulis beberapa pesan inspiratif:

“Semakin lama saya hidup, saya semakin sadar akan pengaruh sikap dalam kehidupan ini. Sikap, bagi saya, lebih penting dari masa lalu, pendidikan, money, keadaan, kegagaln dan kesuksesan. Sikap lebih penting dari penampilan, bakat dan ketrampilan. Sikaplah yang akan membangun ataupun menghancurkan sebuah perusahaan”.

Charles Swindoll menambahkan:

“Hal yang luarbiasa adalah kita dapat menentukan pilihan atas sikap kita setiap harinya. Memang, kita tidak dapat mengubah masa lalu kita, kita tidak dapat mengubah banyak hal. Satu-satunya hal yang dapat kita ubah adalah sikap kita. Saya yakin bahwa 10 persen kesuksesan ditentukan oleh nasib, dan 90 % oleh sikap mental kita”.

 Ubahlah ke Saluran Plus Plus !

 Sebagian besar dari kita menganggap remeh kekuatan pikiran. Kita sering berasumsi bahwa kita dapat berpikir negative dan pada saat yang sama memiliki sikap positif. Tetapi ini tidak benar sama sekali. Yang benar, apapun yang kita kita pikirkan dalam ruang privat kita akan terekspos dalam ruang public. Apa yang Anda pikirkan akan terpancar dalam tindakan Anda. Maka, jangan biarkan diri Anda terjebak dalam pikiran negative jika Anda mengharapkan tindakan yang positif.

Berpikir positif ibarat memilih canel televise Anda. Anda dihadapkan pada banyak saluran televise. Beberapa diantaranya dipenuhi dengan acara remeh temeh, bahkan kadang meracuni Anda. Tugas Anda adalah memilih saluran yang paling positif. Saya menyebutnya saluran Plus Plus. Saya menggunakan perumpamaan saluran televisi karena betapa mudahnya Anda berpindah dari satu saluran ke saluran yang lain. Proses berpikir juga demikian. Anda dapat memindahkan saluran pikiran Anda dari saluran negative menjadi positif. Persis seperti saluran televise Anda, pikiran Anda dapat diubah sekehendak Anda.

Saya akan memberi contoh mudah dalam kehidupan sehari-hari. Bayangkan scenario ini. Banyak orang pernah mengalaminya. Mungkin juga Anda. Suatu hari, Anda sedang cekcok dengan pasangan hidup Anda dengan seru. Ditengah-tengah percekcokan, telepon Anda bordering. Lalu, Andapun mengangkat telepon tersebut, menyapa dan berbicara dengan sipenelpon dengan ramah dan senyum. Setelah Anda selesai, lalu Anda meletakkan telepon Anda. Andapun melanjutkan ‘perang’ dengan pasangan hidup Anda.

Jangan salah sangka! Saya tidak menganjurkan scenario ini kepada Anda. Saya hanya ingin menunjukkan betapa mudahnya kita berpindah dari satu saluran emosi ke saluran yang lain-ya, semudah Anda memencet tombol remote control televise Anda. Rahasianya adalah pilihlah saluran pikiran dan emosi yang positif: saluran perhatian, saluran optimis, saluran kolaborasi, saluran kesabaran dan saluran penghargaan. Jangan pilih saluran negative: saluran kemarahan, saluran agresif, saluran pesimis, saluran putus asa, saluran kemalasan dan saluran kedengkian. Jika saluran negative muncul, segera pencet tombol, pindah ke saluran yang positif. Yang jelas, Andalah pemegang remote control televise pikiran Anda. Bukan orang lain.

Cobalah, besok pagi ketika Anda bangun tidur, pilihlah saluran Plus Plus. Memilih saluran Plus Plus akan membuat Anda lebih menarik, produktif, bermanfaat dan menyenangkan.

Hati-hati, acapkali, tanpa disadari seseorang membuat Anda masuk pada saluran negatif. Seorang pengendara ugal-ugalan tiba-tiba memotong mobil Anda. Seseorang berkata secara ketus nan menyakitkan kepada Anda. Anda mungkin masuk pada saluran marah. Jengkel. Benci. Dendam. Jangan lama-lama. Segera pindah ke saluran Plus Plus: saluran pemahaman, saluran kebijakan dan saluran kesabaran.

Esensinya, kita adalah apa yang kita pikirkan. Itulah sebabnya Anda harus mengontrol pikiran Anda. Ini karena pikiran akan menciptakan sikap. Dan sikap adalah kunci dari semua kesuksesan.

 

 

Kata-Kata adalah Benih Dari Sikap Mental Anda

 Nabi Muhammad pernah berpesan: “Jika kamu percaya kepada hari akhir, ….Mengapa nabi sangat peduli dengan masalah kata-kata yang kita ucapkan? Jelas, kata-kata dapat menjadi lebih tajam dari pedang, lebih mematikan daripada klewang, lebih kejam daripada perang. Karena itulah percekcokan, perselisihan, permusuhan bahkan pertempuran dimulai dari kata-kata. Pelajaran yang ingin disampaikan nabi adalah berhati-hatilah memproduksi kata-kata.

Selain berimbas pada terpecahnya kerukunan, tersumbatnya kedamaian, dan tersendatnya persatuan, kata-kata yang Anda ucapkan juga berefek pada diri Anda sendiri. Kata-kata dapat menyuburkan Anda. Kata-kata juga dapat menghancurkan Anda. Di bawah ini, saya akan berbagi kepada Anda mengenai beberapa rahasia menumbuhkan sikap mental positif dengan kata-kata.

 

Rahasia 1

Gunakan Kata-Kata  Untuk Membangun Anda

 

Salah satu cara terbaik untuk menumbuhkan sikap mental positif adalah dengan kata-kata. Kata-kata adalah seperti benih.  “Kita akan memakan benih kata-kata yang kita tebarkan”, demikian pesan sebuah hikmah.

 

Selayaknya, kita harus memproduksi kata-kata positif setiap hari dalam kehidupan kita. Kata-kata seperti “Saya bersyukur, saya banyak mendapatkan kenikmatan dari Allah. Saya diberkahi oleh Tuhan. Saya sehat. Saya memiliki bakat dan kemampuan. Saya kreatif. Saya bijak” adalah kata-kata yang akan memberi dorongan. Tanpa terasa, kata-kata positif seperti ini akan mendukung dan membangun sikap mental positif. Konsep diri Anda akan membaik. Spirit kehidupan Anda akan naik. Kata-kata positif dapat menjadi kekuatan ajaib. Kata-kata positif yang Anda ucapkan akan meresap dalam alam bawah sadar dan secara pelan namun pasti akan mengubah cara Anda memandang diri Anda secara lebih positif. Kata-kata positif ini akan menjadi berkah bagi Anda.

 

Namun, banyak orang yang mengucapkan kata-kata negative sehingga menjadi semacam ‘kutukan’ bagi diri mereka sendiri. “Saya tidak memiliki bakat untuk sukses. Saya tidak memiliki semangat. Kayaknya saya tidak mampu deh untuk belajar bahasa Inggris”. Inilah kata-kata destruktif yang membuat Anda menjadi pasif dan tidak kreatif. Saran saya, mulailah untuk menghindari kata-kata ‘kutukan’ semacam ini. Kata-kata negative akan melemahkan otot harapan Anda dan mematahkan dayung spirit Anda dalam mengayuh biduk kehidupan menuju pantai kesuksesan.

 

Rahasia 2

Ganti Kata-Kata yang Menkerdilkan Menjadi Kata-Kata yang Menumbuhkan

 

Banyak orang yang menderita krisis konsep diri sehingga merasa tak bergairah, lemas dan susah bernafas. Jika penyakit ini tidak dilibas, cita dan harapan pasti kandas tak berbekas. Jangan khawatir, ada solusi yang pantas.

Banyak orang yang menderita krisis semacam ini karena kata-kata negative yang mereka ucapkan. Kata-kata itu kemudian tertimbun dalam lapisan sedimen jiwa. Ketika kata-kata itu telah memfosil, sebuah sikap hidup negative muncul. Kata-kata negatif ini memiliki kekuatan penghambat yang hebat. Kata-kata negative mencegah Anda meraih prestasi personal yang lebih tinggi dalam kehidupan Anda.

Saya pernah mendengar seorang saudara saya berkeluh: “Takdir saya memang buruk. Saya tidak mendapatkan pekerjaan karena saya memang tidak memiliki kemampuan”. Kata-kata ini sebenarnya berenergi negative dan menghancurkan diri. Lebih parah lagi, kata-kata ini biasanya terus diikuti oleh protes kepada Tuhan, bahwa Tuhan tidak adil dan tidak memberi berkah.

“Tidak, Anda tidak ditakdirkan buruk. Tuhan memberi Anda kehendak bebas. Inilah rahmat luar biasa dari Tuhan. Yang harus Anda lakukan kemudikan adalah menggunakan rahmat itu untuk berusaha. Kehendak bebas itulah yang Anda gunakan untuk ikhtiar”, kata saya kepada Saudara saya ini.

Umpamanya Anda masih ‘jomblo’ alias belum nikah, saya sarankan tidak usah menggerutu kemana-mana sembari berkata: “Nasib, umur saya sudah menjelang 40 tahun. Namun saya masih sendiri. Belum nikah. Saya patah arang. Tidak ada seorangpun menyukai saya. Saya mungkin tidak akan menikah”.

Ayo bangun, jangan patah arang! Lebih baik katakana: “Saya menarik dan ramah. Saya memiliki sikap yang bagus. Saya mudah bergaul dengan orang lain. Saya orang yang menyenangkan”.

Yah, gantilah kata-kata yang mengkerdilkan dengan kata-kata yang menumbuhkan. Dengan berkata-kata positif, Anda akan belajar mulai mempercayai kemampuan diri Anda. Saya percaya, kata-kata positif akan menjadi daya gerak proaktif bagi Anda. Dan saya yakin, Anda akan menjadi lebih baik dengan kata-kata yang baik.

 Seleksilah Informasi Yang Masuk Dalam Otak Anda

 Sejarah tulisan dimulai sejak 6.000 tahun yang lalu. Kata-kata memiliki kekuatan dahsyat. Kata-kata menceritakan. Kata-kata menjelaskan. Kata-kata menyarankan. Kata-kata menggugah. Kata-kata memenangkan. Kata-kata mencerahkan. Dan kata-kata menyentuh.

Selama ini syair dan puisi mewarnai para politikus maupun pemegang kekuasaan seperti Sulaiman, Caesar, Nero, Mao, Che Guevara, Sukarno, Havel dan Pablo Neruda. Kata-kata mengungkapkan perasaan, membuka pintu menuju ranah yang tidak dikenal, menggambarkan pulau yang tidak pernah didatangi, memberi ilustrasi dunia yang tak pernah terlihat, menyajikan petualangan yang tak pernah kita jalani. Kahlil Gibran, Chairil Anwar, Jules Verne, George Orwell, Hemingway, Proust dan Musil menelusuri lorong jiwa, menyelami palung kesadaran kita. Para penulis cerita, penyair dan penulis puisi dihormati di segala budaya.

“Hal yang terhebat di dunia adalah menjadi penguasa metafora, “tulis Aristoteles dalam Poetics pada tahun 332 SM.

Tetapi kini, romansa  dan imajinasi puisi dan syair disaingi oleh gambar langsung. Film, TV, Video dan DVD berjaya menjadi pesaing hebat para penutur cerita dan buku. Sungguh kita telah dibombardir oleh informasi dari kata dan gambar. Dunia kata belum mati. Namun dunia visual menjadi seksi. ‘Dunia MTV’ menjadi trendi.

Inilah  imbas dari era multi media: proliferasi informasi. Informasi dari tivi, radio, video, VCD, internet, Koran dan majalah yang mengalir, membanjir dan membombardir berlalu lalang memasuki pikiran kita. Yang terjadi kemudian adalah apa yang oleh para ahli informasi disebut sebagi ‘information overload’. Banjir informasi memasuki dan memporakporandakan kestabilan otak kita. Tak jarang luapan informasi itu meruntuhkan benteng pertahanan kita. Acapkali banjir informasi membuat pikiran stres dan otak tidak beres.

Yang perlu diwaspadai, stabil dan labilnya pikiran Anda akan banyak ditentukan oleh kualitas informasi yang merembes kedalam otak Anda. Sakit dan sehatnya pikiran Anda akan banyak dipengaruhi oleh baik atau buruknya informasi yang memasuki otak Anda. Saya sering merasakan gejala ini. Ketika saya menonton berita-berita kejahatan dan pembunuhan, rasa geram muncul dalam dada. Rasa benci menjadi-jadi. Rasa tidak nyaman begitu tinggi. Kepala saya menjadi pening dan tidak dapat berpikir bening. Saya merasakan level stres yang meningkat. Detak jantungpun menjadi tidak beraturan. Sebaliknya, ketika saya menonton acara-acara humor dan berita-berita kemenangan, acara-acara pencerahan, kabar pertumbuhan dan perbaikan, hati saya merasa senang. Pikiran terasa ringan. Jiwa menjadi tentram.

Merenungkan pengalaman ini, saya jadi teringat istilah GIGO yang merupakan singkatan dari ‘garbage in garbage out’. Jika yang masuk sampah, yang keluar juga sampah. Jika yang masuk pikiran adalah informasi dengan kualitas ‘sampah’ maka yang keluar juga sampah. Jika generasi muda-dan generasi tua- kita menjadi penikmat pornografi, maka produknya adalah generasi pornografi, yang tentu tidak berkualitas tinggi dan miskin potensi. Jika kita menyuapi diri kita dengan informasi buruk setiap hari, kualitas pikiranpun menjadi tidak handal. Segenap penyakit kejiwaan dan hati mengancam. Jadi jelas, input informasi yang masuk akan menentukan kualias Anda. Pelajarannya, pilihkan informasi yang baik untuk memasuki pikiran Anda. Pilahlah timbunan informasi yang ditawarkan oleh media kita. Akseslah informasi dengan bijak.

Informasi negative ternyata berpengaruh terhadap kesehatan jiwa dan raga Anda. Ada legitimasi ilmiah untuk pernyataan ini. Pada tahun 1980 sebuah study bernama ‘T-Cell’ pernah meneliti pengaruh informassi terhadap kesehatan manusia. Dalam penelitiannya, beberapa kelompok orang diberi stimulus informasi positif dan negative. Hasil penting dari penelitian itu menarik. Orang-orang yang mendapatkan informasi secara rutin terganggu kesehatan darahnya. Maka sekali lagi, pilihlah informasi yang bermutu tinggi dan bergizi untuk dapat melejitkan potensi diri yang tinggi.

  Bergaulah Dengan Orang-Orang Positif

 Terbanglah dengan rajawali untuk membumbungkan potensi dilangit yang tinggi. Jangan terbang bersama bebek yang sebentar-sebentar berhenti. Pepatah menasehatkan bahwa Anda akan banyak ditentukan oleh teman Anda. Dan pepapath ini sangatlah tepat. Carilah teman-teman positif agar Anda menjadi positif. Bertemanlah dengan orang-orang yang berpikir, berbicara dan bertindak positif. Hindari orang-orang yang berpikir, berbicara dan bertindak negative. Jangan jadikan para pengeluh, penggerutu, penggosip, pemolor dan penteror menjadi teman-teman dalam kehidupan Anda.

 Tirulah Orang-Orang Yang Positif

 Kita biasanya ingin meniru tingkah laku orang yang kita kagumi. Jika demikian, peniruan sangatlah vital dalam proses pembelajaran. Identifikasikan tokoh-tokoh sukses dan positif yang Anda kagumi. Pelajari dan tirukan apa yang mereka kerjakan, bagaiamana mereka melakukannya, apa yang mereka katakan dan bagaimana mereka membangun potensi diri. Cobalah!