Puasa Sebagai Pendidikan Karakter

  Articles   August 12, 2010

PUASA SEBAGAI PENDIDIKAN KARAKTER

(Dimuat di Harian Bernas, Yogya, 2009)

Oleh: Endro Dwi Hatmanto, Spd, MA

Puasa sering dicandra sebagai ibadah yang melatih manusia untuk memperoleh kemampuan pengendalian diri. Kemampuan pengendalian diri merupakan ciri unik manusia yang membedakan dirinya dengan binatang.

Kemampuan untuk dapat mengendalikan diri merupakan wujud dari sebuah kharakter yang tangguh. Dengan demikian, sebuah tesis yang bisa diajukan adalah bahwa puasa dapat menawarkan fungsinya sebagai pendidikan karakter. Sebelum mengiluminasi kontribusi puasa dalam pendidikan karakter, setidaknya dua terminologi memerlukan elaborasi,yakni; pendidikan dan karakter.

Profesor Driyakara mendefinisikan pendidikan sebagai proses memanusiakan manusia, yaitu suatu perbaikan kualitas manusia ke taraf insani sehingga dapat menjalankan hidupnya sebagai manusia yang utuh dan membudayakan diri manusia dengan kelengkapan dimensinya; berpengetahuan, berkarakter dan berohani. Karakter, menurut kamus besar Bahasa Indonesia, dimaknai sebagai sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain.

Pendidikan karakter, dengan demikian, adalah proses memanusiakan manusia dengan jalan memperbaiki akhlak dan budi pekerti manusia. Definisi ini sebenarnya agak rancu karena sejatinya pendidikan memanglah proses penanaman nilai untuk membangun karakter. Pendidikan adalah transfer of values. Inilah yang membedakannya dengan pengajaran, yang sering di asosiasikan dengan proses transfer of knowledge. Pendidikan, bagi Dr. Peter dalam bukunya Education Ethics, identik dengan educere, proses membangun dari dalam keluar (inside out).

Dalam ajaran Islam, karakter yang baik dapat dibentuk dengan memberikan perlakuan dan lingkungan yang tepat dalam skema proses pendidikan. Sesungguhnya Allah telah memberikan dua potensi manusia yaitu potensi untuk menuju kebaikan dan potensi untuk menuju keburukan. Karena fungsinya sebagai latihan untuk membangun kemampuan kontrol diri, puasa sejatinya merupakan metode pendidikan untuk membangun potensi-potensi baik dalam diri manusia. Dengan kata lain puasa menyediakan konstruk pendidikan untuk membangun karakter.

Puasa dan tiga level pendidikan karakter

Proses puasa dalam menyediakan pendidikan karakter bekerja dalam tiga level yaitu individu, organisasi dan negara. Dalam konteks individu, seorang hamba yang sedang berpuasa dilatih untuk mengerjakan hal-hal terpuji dan menghindari hal-hal tercela. Dalam teropong psikologi, kurun puasa yang dilakukan selama 29 atau 30 hari menyediakan waktu untuk proses repetisi dalam menanamkan kebiasaan-kebiasaan baik. Proses ini tentu tidak mudah. Al Ghasali dalam sebuah bukunya menggambarkan bahwa jiwa manusia adalah ibarat kerajaan. Nafsu ibarat petugas pajak yang selalu memaksakan kehendak untuk minta dipenuhi. Amarah ibarat polisi kerajaan yang kasar dan sewenang-wenang. Akal ibarat para mentri yang membantu raja melaksanakan tugas dan hati ibarat raja yang mengkontrol semua proses dalam kerajaan. Nafsu dalam jiwa sering melakukan serangan gencar kepada manusia untuk dipenuhi. Menangya hati dan rasio atas nafsu akan melahirkan karakter yang baik. Sebaliknya menangnya nafsu akan menghantarkan kita pada karakter dan perilaku buruk. Bukankah korupsi terjadi karena bisikan nurani kalah oleh nafsu kerakusan untuk menumpuk kekayaan? Bukankan perselingkuhan terjadi karena rasio ditundukkan oleh syahwat ingin memperoleh kenikmatan. Puasa digunakan untuk melatih agar hati dapat memenangkan nafsu-nafsu daya rendah dalam jiwa individu sehingga melahirkan karakter positif.

Dalam konteks organisasi, kualitas sebuah organisasi akan sangat ditentukan oleh kualitas karakter para anggotanya. Jika para anggotanya disiplin, kerja keras, kerja cerdas, tepat waktu dan berkomitmen tentu performance organisasi tersebut akan bagus. Sebaliknya, penampilan organisasi akan menjadi buruk ketika para anggotanya menampilkan karakter seperti; malas, enggan untuk belajar, tidak menghargai waktu dan berkomitmen rendah. Karena pentingnya karakter positif dari para anggotanya, banyak organisasi yang mengembangkan konsep ‘corporate culture’ atau budaya organisasi yang intinya sebenarnya pengembangan karakter dan kebiasaan baik dalam organisasi. Ilham amar ma’ruf nahi mungkar dari puasa dapat member inspirasi organisasi dan perusahaan untuk membangun corparte culture dengan fondasi nilai-nilai transedental-illahiah seperti kerja sama, keadilan, kejujuran, menghargai waktu, dan profesionalisme.

Dalam konteks masyarakat dan negara, keberhasilan individu dalam memfungsikan ibadah puasa sebagai sarana membangun karakter akan sangat menentukan apakah masyarakat akan memiliki perilaku yang terpuji atau tercela. Karakter masyarakat tentu akan mewujud dalam akhlak warga negara dan elit pemimpinnya. Berkenaan dengan watak dan karakter bangsa ada sebuah temuan penelitian yang menarik dalam buku ‘culture matters’. Studi yang dilakukan oleh para profesor Harvard ini mengungkapkan bahwa sikap mental dan karakter sebuah bangsalah yang menentukan kemajuan dan kemundurannya. Karakter manusia-manusia bangsa maju cenderung mengarah kepada karakter positif atau akhlakul karimah seperti; taat peraturan, disiplin, tepat waktu, komitmen pada janji, menegakkan hukum, bertanggung jawab dan penghargaan yang tinggi kepada hak asasi manusia. Sebaliknya bangsa kurang maju cenderung berwatak sebaliknya. Tidak berlebihan jika ada sebuah adagium yang mengatakan bahwa jika akhlak masyarakatnya kokoh negara akan kokoh, jika akhlak masyarakatnya buruk negara akan runtuh.

Pamungkas, ada sebuah sabda nabi yang mengungkapkan bahwa banyak orang yang puasa namun tidak tidak memperoleh hasil apa-apa. Pertanyaannya, apakah puasa telah menjadikan karakter individu, organisasi dan bangsa mulia dan unggul? Jika belum, selayaknyalah Ramadhan tahun 2009 ini dapat dijadikan momentum bagi para umaro, ulama, masyarakat dan individu anak-anak bangsa untuk melecut diri, menjadikan puasa sebagai alat bagi pendidikan dalam membentuk karakter bangsa yang mulia menuju bangsa yang berderajat dan beradab. Amin.

Endro Dwi Hatmanto, Spd, MA adalah Kepala Program Studi Bahasa Inggris UMY.