“Beauty” yang berasal dari kata latin “Bellus” mengacu pada makna “kecantikan”. Pada umumnya kecantikan berkonotasi pada keindahan dan keelokan fisik. Perihal kecantikan, sebuah pepatah Inggris mengatakan “beauty is in the eye of the beholder”. Kecantikan tergantung dari persepsi orang yang melihatnya. Dus, cantik itu relatif (kalau jelek itu mutlak!)

Jurnalis dari Inggris “Anthony Price” dalam bukunya “The 44 vintage” (1978) menulis “Beauty is only skin-deep”. Kecantikan hanyalah sekedar permukaan kulit saja, demikan kata Price. Namun sejak Cherrybelle melantunkan lagu “Kamu cantik-cantik dari hatimu”, konsep kecantikan berubah. “Inner beauty” jauh lebih penting daripada “outer beauty”. Kecantikan moralitas dan kegantengan kualitas jauh lebih  signifikan daripada penampilan permukaan yang artifisial. Ini setidaknya memberikan hiburan bagi siapapun yang wajahnya pas-pasan(hehe). Kegantengan Anda bukan jaminan Anda akan mendapatkan istri yang cantik (apalagi tidak ganteng).

Sebuah pesan teologis bertutur “Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu bangsa jika bangsa itu tidak mengubah dimensi yang ada di dalam diri mereka sendiri”. Dimensi dalam diri Anda tidak lain adalah kecantikan sikap, keanggunan perilaku dan kekuatan intelektualitas yang membentuk sebuah ‘inner beauty’ dan bangunan kualitas diri Anda sebagai khalifah Tuhan.

Individu atau masyarakat yang tidak memiliki ‘inner beauty’ cenderung akan mengalami kemerosotan, kebangkrutan dan kejumudan. Sebaliknya, terbangunnya ‘inner beauty’ adalah resep ampuh bagi kemajuan individu dan masyarakat. Sebuah studi yang dilakukan oleh para professor di Universitas Harvard menunjukkan bahwa kunci kemajuan yang dicapai bangsa-bangsa maju adalah karakter positif dan perilaku yang konstruktif dari bangsa-bangsa tersebut. Sebaliknya, bangsa-bangsa yang bangkrut dipicu oleh moralitas yang destruktif, koruptif, kleptokratif dan anarkis! Bangsa yang bangkrut adalah bangsa  yang mengandalkan paham “survival of the fittest”:  hukum rimba, merusak,  melanggar aturan, budaya okol, premanisme dan tawuran. Bangsa yang maju mengandalkan spirit “survival of the wisest”, kedewasaan, dialog, musyawarah, taat aturan, kebijaksanaan, budaya otak dan budaya berpikir  (Baca bukunya “Culture matters” karya Huntington).

Yakinlah, saya dan Anda akan menjadi umat terpilih jika kita mampu ber”amar makruf” menumbukan kecantikan moralitas dan ber “nahi mungkar” mencegah anasir-anasir perilaku amoral dalam diri dan masyarakat kita. Strateginya adalah “Ibda bi nafsik”! Mulailah dari diri kita !

Endro DH, Melbourne, 8 November 2012.