Jika ada sebuah kata yang sering mewarnai puisi-puisi, kata itu adalah “cinta”. Jika ada sebuah kata yang sering memberi nuansa dalam berbagai lagu, kata itu adalah “cinta”. Jika ada sebuah kata yang sering memberi aksentuasi dalam kehidupan, kata itu adalah “cinta.

“Love”, istilah bahasa Inggris yang mengacu pada kata “cinta”, pada awalnya diderivasi dari bahasa latin “lubido” yang artinya keinginan biologis manusia. Dalam perkembangan maknanya, “love” diartikan kasih sayang dan perwujudan emosi altruistik untuk memperhatikan penderitaan sesama.

Ellis Caroll dalam bukunya “Alice’s Adventures in Wonderland” pada tahun 1865 menulis “Love makes the world go round”. “Cinta  membuat dunia berputar”, begitu kata Caroll. Caroll sejatinya ingin memberi pesan bahwa spirit cinta dapat menggerakkan kehidupan kita. Etos cinta dapat membuat nadi kehidupan saya dan Anda menjadi berdenyut.

Cinta adalah benih yang dapat menyemaikan “compassion” atau kebaikan hati. Menurut Deepak Chopra, hidup dengan cinta adalah hidup di atas “fitrah” dan hukum Tuhan di alam semesta. Planet-planet mewujudkan ekpresi cintanya dengan memberi daya gravitasi untuk menjaga keberlangsungan semesta. Sel-sel baru dalam tubuh kita mewujudkan cintanya dengan mengganti sel-sel lama yang telah mati. Seekor induk burung memperlihatkan cintanya dengan memberikan makan anaknya yang masih kecil.

Kebaikan-kebaikan yang terjadi disekitar saya dan Anda digerakkan oleh cinta. Keluarga yang dipenuhi dengan rasa cinta akan melahirkan kasih sayang, penghormatan dan perkembangan perilaku yang positif. Pemerintah yang diilhami oleh cinta akan mengembangkan kebijakan-kebijakan yang berpihak kepada kaum marjinal, papa,miskin dan orang-orang yang kurang beruntung. Masyarakat yang dilandasi cinta akan menghasilkan masyarakat  yang saling menyapa, memberi perhatian, memelihara, menumbuhkan, memberi dorongan.  Pekerjaan yang memiliki fondasi cinta akan memberikan produktifitas, energi dan semangat yang tinggi. Cinta adalah energi yang positif, konstruktif dan produktif.

Kebalikannya, hidup dengan kebencian dan nihilnya cinta adalah hidup melawan fitrah. Bayangkan: planet-planet tidak saling memberikan energi gravitasinya!; Sel-sel baru dari tubuh kita tidak memperbaiki sel lamanya! Induk burung tidak memberi makan pada anak kecilnya! Tentu, semesta akan rusak. Kehidupanpun menjadi usang, mati, pupus. Sirna!

Kebencian tanpa cinta melahirkan individu-individu yang egois, kejam, tak bernurani, abai terhadap sesama dan bermain curang dalam segenap lini kehidupan. Kebencian menciptakan kerusakan, permusuhan, perceraian, tawuran, bentrokan dan pertumpahan darah. Kebencian membuat saya dan Anda tidak bijak dalam membuat keputusan. Kebencian adalah energi negatif dan destruktif.

Karena fitrah kebaikan dan keanggunan moral yang munculkan oleh cinta, para guru kehidupan mengajari kita pentingya cinta. Nabi Muhammad mengajarkan “manusia yang mengimani Tuhan dan hari akhir mesti menghormati dan mencintai tetangganya”. Nabi Isa mengatakan “Cintailah manusia lain sekalipun itu musuhmu”. Sidartha Budha Gautama bertutur, “Mencintai manusia lain adalah bagian penting dari proses Anda mencapai kesadaran jiwa tertinggi untuk mencapai Nirvana”.  Kitab suci berpesan agar segenap insan menghindari perbuatan yang merusak di atas bumi. Rahmat Tuhan akan dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan (QS. 7: 56). Tentu, kebaikan-kebaikan adalah hasil dari persemaian cinta yang kita tabur. Yakinlah, Tuhan menurunkan manusia di bumi karena skenario cintaNya agar kita menjadi lebih dewasa dan bijak dalam menjalani savana kehidupan. Esensi dan inspirasi agama sejatinya adalah cinta.

Mari kita gerakkan denyut nadi kehidupan dengan etos cinta!

Endro DH, RMIT University, Melbourne, Australia, 12 November 2012.