Kalimat “Cogito, ergo sum” dipopulerkan oleh Rene Descartes pada tahun 1673 dalam bukunya “Discourse on Method”. Makna dari ungkapan bahasa Latin ini adalah “I think, therefore Iam”. “Aku berpikir, maka aku ada”!

Pikiran merupakan entitas penting dari dimensi intelektualitas manusia. Tuhan memilih manusia menjadi khalifah karena manusia dilengkapi pikiran. Dengan pikiran, kita dapat memekarkan bunga kebudayaan dan menumbuhkan pohon peradaban. Dengan pikiran, kita dapat menundukkan alam dan memanfaatkannya. Dengan pikiran, kita dapat menggunakan kehendak bebas yang dianugerahkan Tuhan kepada kita. Dengan pikiran, kita mampu menegakkan tiang pancang kebijaksanaan dan kearifan.

Ajaran agama bertutur bahwa pikiran dapat kita gunakan sebagai proses “Tazkiah” (penyucian jiwa). Pikiran dituntun oleh Tuhan melalui wahyunya untuk melakukan pembacaan (iqro) terhadap tanda dan pelajaran yang bertebaran di alam semesta: bumi, langit, planet, galaksi,burung, laba-laba, lebah, kehidupan sosial-kultural manusia, umat terdahulu dan masa depan manusia. Dengan pikiran, kita mampu melakukan refleksi tentang pemahaman“sangkan paraning dumadi”. Dengan kata lain, pikiran membuka pintu kesadaran tentang darimana kita berasal dan akan kemana kita kembali. Orang-orang yang berpikir selayaknya akan lebih berkhidmat untuk mendekatkan hubungan dirinya dengan Tuhan. Tuhanpun akan memberikan berbagai pencerahan kepada orang-orang yang menggunakan pikirannya untuk memahami ayat-ayat semesta.

Pikiran juga akan menuntun kita untuk mengembangkan “Tazkirah”, yakni  ilmu dan teknologi serta perangkat pengetahuan untuk membuat kehidupan kita menjadi lebih baik.  Tak mengherankan, individu dan masyarakat yang memanfaatkan pikiran akan memperoleh kemajuan. Individu dan masyarakat yang berikhtiar untuk melakukan “taskirah”melalui pikirannya cenderung lebih progresif dan maju jika dibandingkan individu dan masyarakat yang jarang menggunakan pikirannya. “Tidaklah sama antara orang-orang yang berilmu dengan orang-orang yang tidak berilmu”,  demikian kitab suci berpesan. Individu dan masyarakat beradab mengembangkan pikiran dalam berbagai dimensinya: berpikir logis, berpikir kreatif,berpikir reflektif, berpikir inovatif dan berpikir kritis.

Hidup tanpa menggunakan pikiran sama persis dengan Zombie. Zombie bergerak, membuat kekacauan, menebar teror dan ketakutan, menganiaya sesama, merugikan orang lain, membunuh, bertindak brutal, anarkis dan destruktif tanpa kesadaran pikiran. Dengan demikian, tugas saya dan Anda adalah membangunkan pikiran individu dan masyarakat Zombie yang mungkin masih bergentayangan. Pendidikan, tuntunan, ajaran agama, norma dan etika adalah alat-alat yang dapat kita gunakan untuk membangunkan pikiran para Zombie.

Yakinlah, Cogito Ergo Sum !!

Endro DH, Melbourne, 12 November 2012.