KEBERUNTUNGAN

“Fortune”, kata dalam bahasa Inggris, mengacu pada makna keberuntungan. Kata ‘fortune’ sendiri diambil dari sebuah nama Dewi Romawi bernama ‘FORTUNA’ yang memberi personifikasi keberuntungan. Dalam bahasa Jawa, orang yang beruntung disebut ‘BEJO’. Kalau ada orang yang bernama “BEJO FORTUNA”, maka keuntungan orang itu berlipat. Namun ada orang yang paling beruntung : “BEJO UNTUNG FORTUNA” !  Kalau nama Anda ‘bejo’ tetapi tidak beruntung, ini berarti ‘the wrong name in the wrong person’.

Iklan sering bertutur, “ORANG BEJO LEBIH BERUNTUNG DARIPADA ORANG PINTAR”. Betulkah? Dari segi bahasa, kalimat ini tidak salah karena memang “bejo” sebangun dengan “beruntung”. Dari segi esensi makna, kalimat ini menyesatkan. Penelitian yang dilakukan oleh Profesor Wiseman menunjukkan sebaliknya. Dalam temuan penelitiannya, orang-orang yang dianggap beruntung karena pencapain prestasinya ataupun kekayaannya ternyata mengembangkan sikap dan perilaku disiplin, berpikir terbuka,mampu mengambil peluang, berpikir positif, kemauan untuk terus belajar dan bekerja keras serta bekerja cerdas. Dengan demikian sebelum orang-orang itu menjadi beruntung, mereka berusaha untuk menjadi ‘cerdas’ dulu.

Dalam sebuah puisi “Roman Poet Virgil”, sebuah kata mutiara tertulis indah “AUDENTES FORTUNA IUVAT”, yang berarti ‘FORTUNE FAVOURS THE BRAVE”. Keberuntungan akan berpihak kepada orang-orang yang berani: berani mengambil peluang, berani berusaha, berani bertindak, berani berpikir positif serta berani bekerja keras dan cerdas. Dengan kata lain, keberuntungan tidak berpihak kepada orang-orang yang tak melakukan apapun untuk mengubah dirinya menjadi lebih baik.

Pesan teologis bertutur bahwa “TUHAN TIDAK AKAN MENGUBAH NASIB SUATU KAUM JIKA KAUM ITU TIDAK MENGUBAH DIRI MEREKA SENDIRI”. Aksioma ini berlaku pula dalam memperoleh keberuntungan. Nasehat kitab suci bahkan memberi resep keberuntungan yang lebih komprehensif. Agar Anda menjadi orang-orang yang beruntung, Anda perlu:

  1. Memiliki ‘faith’ atau keimanan yang kuat.
  2. Mengaktualisaikan keimanan dalam dimensi kesalehan individual (hubungan insan dengan sang khaliq yang diwujudkan melalui peribadahan shalat) dan kesalehan sosial (direfleksikan melalui kepedulian kemanusiaan melalui zakat).
  3. Membangun moralitas yang kokoh: kemampuan menjaga kehormatan dan melakukan kontrol diri; komitmen kepada janji dan kepercayaan yang diberikan.
  4. Memanfaatkan dan memenej waktu dengan bijak dengan mengindari aktifitas yang tidak bernilai dan tidak memberi nilai tambah untuk meningkatkan kualitas Anda (Al mukminuun, 1-11).

Anda ingin beruntung? Jangan menunggu durian runtuh! Segera mulai bangun karakter pribadi yang beruntung. Mari!