BELAJAR KEPADA LEBAH

“Bee” adalah kata dalam bahasa Inggris yang mengacu pada kata “lebah”. “Busy like a bee”, demikian sebuah peribahasa Inggris mengatakan. Ternyata seekor lebah tidak hanya sibuk. Makhluk kecil ini dikirim oleh Tuhan untuk memberikan pelajaran kepada manusia tentang sebuah falsafah hidup: Jadilah berguna !

Lebah memberikan ‘ibrah’ (pelajaran) kepada kita untuk memberikan nilai kegunaan dalam kehidupan yang kita jalani. Lebah menghasilkan madu sebagai obat dan lilin. Lebah membantu proses pembuahan tanaman sehingga tanaman tersebut menjadi produktif. Lebah menawarkan obat melalui sengatnya.

Saya dan Anda dapat menjadi seperti lebah. Kita dapat menghasilkan madu produktifitas kehidupan. Kita dapat menjadi lilin penerang kegelapan. Kita dapat membantu orang lain agar lebih produktif dan berdaya guna. Kita dapat menjadi obat penawar bagi jiwa-jiwa yang sedang sakit, galau, lebay nan alai. Ini cius !

Menjadi berguna adalah sebuah keniscayaan fitrah dan ‘natur’ kita sebagai makhluk Tuhan. Tuhan melalui semesta alam mengajari kita: “Makhluk dan benda yang tak berguna akan cepat mati dan usang!” Rumah yang tidak digunakan akan lekas aus dan rusak. Pohon pisang yang tidak menghasilkan buahnya akan mati. Kendaraan yang tidak digunakan akan cepat rusak. Orang-orang yang sudah pensiun dan marasa dirinya tidak berguna lagi akan cepat jatuh sakit, merana, loyo dan mati.  Jika demikian, menjadi berguna dan produktif adalah cara Tuhan dalam mengajari kita untuk menjaga spirit dan elan vital kehidupan.

Menjadi berguna adalah sebuah keharusan teologis. Kisah pengajaran Lukman kepada anaknya dalam kitab suci memberi pesan bahwa kebaikan kecil yang memiliki nilai kegunaan walau sebesar biji sawi akan dibalas oleh Tuhan. Nabi mengajari kita untuk berguna walau hanya sekedar menyingkirkan duri di jalan. Nabi menuturkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling berguna bagi orang lain. “Afdholunnas yanfa’u linnasi” !