Coba perhatikan, jika kita melihat foto kita yang difoto bersama teman dan kolega kita, foto siapa yang kita lihat? Foto diri kita. Persis ! Hampir semua manusia, termasuk saya dan Anda,memiliki ‘EGO NARSISME’ dan EGO KEAKUAN yang begitu besar.

Kata NARSISME berasal dari mitologi Yunani. Syahdan, seorang cowok ganteng bernama “NARCISSUS” berada di sebuah kolam. Narcissus sangat mengagumi bayangan dirinya di dalam kolam yang tampak sangat tampan dan mempesona. Lupa makan, lupa tidur dan lupa segalanya, akhirnya dia menemui ajalnya ! Mitologi Narcissus kemudian diangkat dalam sebuah puisi oleh Samuel Taylor Coleridge pada tahun 1822.

Di abad materialis dan pragmatis ini Narsisme seakan menemukan bentuknya. Contoh mudahnya, facebookers ramai-ramai memasang foto yang paling cantik dan ganteng di facebook. Facebookers yang sudah menjelang kepala 4 mungkin akan segera sadar bahwa kecantikan dan ketampanan akan segera pudar. Di usia “sweet seventeen”, seorang gadis mungkin disebut sebagai “kembang desa” (atau kalau cowok “tawon desa”). Di usia Sweet-dakan (60 an), gadis itu akan berubah menjadi “lumut desa”.

Narsisme yang paling brutal mewujud dalam ‘landscape’ sosial, politik dan ekonomi kita. Para politisi ramai-ramai memasang fotonya dipojok-pojok jalan. Setelah mendapatkan harta dan tahta, narsisme kemudian berubah menjadi bentuk kerakusan yang nyaris sempurna. Narsisme berkembang maknanya menjadi ‘egosentrisme’ dan sikap abai terhadap penderitaan orang lain.

“Menjadi sederhana” adalah solusi dari lingkaran setan narsisme: Berpenampilan, berpikir dan bertindak sederhana itu indah. Falsafah Jawa bertutur: “Ngono yo ngono ning ojo ngono”. “Dadi wong sing sak madya wae”.  Pesan-pesan religi juga mengajarkan kepada kita untuk hidup secara sederhana. Bahkan banyak ‘masterpiece’ dan prestasi dunia yand dimulai dari berpikir dan bertindak sederhana. Berpikir dan bertindak sederhana tak jarang menghasilkan sesuatu yang luar biasa!

Endro, Melbourne 3 Desember 2012