Aceng Fikri bikin heboh. Masyarakat dianggapnya bodoh. Semua orang menjadi tergopoh-gopoh. Si Aceng nggak bisa kasih contoh. Baladanya begini:  Ia menikahi gadis 18 tahun. Ia menceraikannya setelah menjalani pernikahan yang hanya 4 hari. Banyak yang geram dengan kelakuan Si Aceng. Ibu-bu menjadi gemas dengan tingkah Aceng. Para politisi ‘garut-garut kepala’ dengan tingkah koboi Aceng. Mungkin dikasih nama “Fikri” saja biar nggak aneh-aneh (nggak usah pakai nama depan).

Kisah Aceng hanyalah secuil fragmen dari rententan kisah lain tentang profil pemimpin yang abai terhadap nilai luhur moralitas dan etika. Pada kasus-kasus lain, pemimpin yang melakukan korupsi sudah menjadi topik rutin media kita. O ya, ada juga pemimpin yang melihat ‘blue movie’ dari Ipad-nya di tengah rapat yang penting dan terhormat. Teman-teman dan koleganyapun menjadi marah (karena tidak diajak J).

Ah sudahlah! Itu semua kisah pemimpin yang sedang  bereforia di atas singgasana kekuasaan politiknya. Merefleksikan kisah-kisah pemimpin bermasalah, mari kita bicara tentang kepemimpinan dalam diri kita. “Kullukum roo’in wa kullukum mas’uulun ‘aro ‘iyyatihi”. “Setiap diri kita adalah pemimpin dan kita akan bertanggung jawab terhadap orang yang kita pimpin”, demikian sabda Nabi.

Mari kita naiki tangga-tangga kepemimpinan:

TANGGA 1: POSISI

Jika Anda diangkat menjadi manajer, Anda memiliki kekuasaan karena Anda telah diangkat melalui surat keputusan. Jika Anda menjadi kepala rumah tangga, Anda memiliki kekuasan karena Anda diangkat dan diresmikan oleh penghulu. Jika Anda menjadi bupati, Anda juga memiliki kekuasaan setelah diangkat menjadi bupati melalui surat keputusan resmi. Anak buah Anda menuruti Anda hanya karena ada SK yang menjadikan Anda pemimpin. Inilah level POSISI dari tangga kepemimpinan Anda. Level “posisi” belumlah menjadikan Anda pemimpin sebenarnya. Segera naik ke tangga berikutnya!

TANGGA 2: PERMISI (RESTU)

Anda diterima oleh orang-orang yang Anda pimpin karena Anda memperhatikan mereka. Jika Anda seorang manajer di sebuah organisasi, Anda menghormati staf-staf Anda. Jika Anda orang tua, Anda menghargai dan menyayangi anak-anak Anda. Jika Anda adalah seorang guru, Anda memberikan perhatian kepada siswa-siswa. Anda sedang sedang berproses menjadi seorang pemimpin yang mendapatkan restu dan pengakuan karena ikatan emosi yang Anda berikan.

Refleksi, yuk:

Setelah nikah siri 4 hari, bupati Garut kehilangan legimitasi moral dari masyarakat. Ia kehilangan restu dari orang-orang yang dipimpinnya. Siapapun yang mengaku sebagai pemimpin, jangan cederai kepercayaan orang yang Anda pimpin karena Anda akan kehilangan restu dari mereka.  Namun, restu saja tidak cukup untuk menjadikan Anda pemimpin sejati. Siap naik ke tangga berikutnya?

TANGGA 3: PRESTASI

Bayangkan, sebagai kepala rumah tangga Anda dapat menggapai tangga kesuksesan baik secara finansial, pendidikan maupun keimanan. Pikirkan, sebagai seorang manajer, Anda berhasil membesarkan organisasi dengan capaian prestasi dan produktifitas Anda. Sebagai seorang guru, Anda berhasil membuat anak didik Anda menjadi orang-orang yang sukses. Anda sedang menaiki tangga PRESTASI sebagai seorang pemimpin.

TANGGA 4: INSPIRASI  

Inilah tangga puncak kepemimpinan Anda. Dalam level INSPIRASI, Anda menjadi MANUSIA GURU. Anda menjadi manusia yang memberdayakan orang-orang yang Anda pimpin secara fisik, moral, intelektual dan spiritual. Anda memberikan pencerahan kepada pengikut-pengikut Anda.

Nah, SELAMAT MENAIKI TANGGA KEPEMIMPINAN ANDA!

Melbourne, 12 Desember 2012