HISABLAH DIRI SEBELUM KITA DIHISAB

Allah selalu mengawasi segala gerak-gerik hambaNya. Allah juga senantiasa menghitung semua amalan yang dilakukan hambaNya baik yang miskin maupun yang kaya.

Orang-orang yang bijak akan memahami bahwa Allah selalu mengawasi gerak-gerik kita dan sesungguhnya kita akan diinterogasi pada hari perhitungan amal. Kita kelak akan ditanyai tentang pikiran-pikiran dan lintasan-lintasan hati dan perbuatan kita. Oleh karena itu, kita dituntut untuk senantiasa menghisab diri kita agar kita dapat senantiasa memperbaiki diri sebelum hari perhitungan itu tiba.

Khalifah Umar bin Khathtab pernah menasehatkan, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab dan berhiaslah diri dengan amal shaleh untuk menghadapi hari yang paling agung (hari Kiamat) karena sesungguhnya perhitungan amal menjadi ringan bagi orang yang telah melakukan instrospeksi diri di dunia”.

Langkah pertama kita untuk menghisab diri adalah dengan MEMBANGUN SIKAP RENDAH HATI. Orang yang rendah hati mampu melihat ‘weaknesses’ atau kelemahan dalam dirinya. Bagaimana mungkin kita akan memperbaiki diri kita jika kita terlalu percaya diri bahwa kita tidak punya kelemahan? Oleh karena itu, kita semestinya rela untuk melucuti baju kesombongan kita.

Ibnu Qayyim mengatakan bahwa “su’uzhann” terhadap diri sendiri adalah sesuatu yang dibutuhkan, sedangkan “husnuzhann” terhadap diri dengan menganggap diri telah shaleh justru dilarang karena dapat menghalangi kesempurnaan koreksi diri dan menimbulkan kekaburan-kekaburan. Sikap ini akan menjadikan seseorang melihat keburukan sebagai kebaikan dan kekurangan sebagai kesempurnaan. “Barangsiapa ‘berhusnuzhann’ terhadap diri sendiri dan melihat diri sendiri sudah sempurna, berarti dia tidak mengenal dirinya sendiri”, kata Ibnu Qayyim.

Langkah kedua agar kita dapat menghisab diri kita adalah dengan MENUNTUT ILMU. Cahaya hikmah adalah ilmu. Dengan ilmu seseorang akan dapat membedakan antara hak dan batil, hidayah dan kesesatan, manfaat dan kerugian, kebaikan dan keburukan serta kesempurnaan dan kekurangan. Dengan ilmu, kita dapat mengetahui tingkatan amal, perbuatan yang utama dan tidak utama, yang diterima dan yang ditolak. Semakin banyak seseorang memperoleh cahaya ilmu, semakin sempurnalah dia dalam melakukan introspeksi diri.