BE A CLIMBER !

Menjadi seorang muslim dapat ditamsilkan sebagai seorang pendaki. Bayangkan, didepan kita adalah sebuah gunung yang menjulang tinggi dan menawarkan segala tantangannya!

Seorang pendaki akan memulai pendakian dengan melalui kaki gunung yang nyaman untuk didaki. Inilah comfort zone para pendaki. Seorang muslim juga memiliki zona nyaman, yakni rutinitas ibadah yang menjadi indikator minimalis bagi kesalehan individualnya: shalat lima waktu, shalat jumat, puasa Ramadhan dan menghadiri pengajian.

Semakin tinggi mendaki, seorang pendaki akan semakin banyak menemui hambatan dan tantangan: tanah yang licin, bukit terjal dan jurang yang menganga. Seorang muslim pun mengalami hal yang sama. Lepas dari zone nyaman rutinitas ibadahnya, ia akan menemukan berbagi tantangan untuk menguji ketangguhannya sebagai seorang muslim. Ia harus membayar zakat, membayar sedekah, membayar infaq dan berbagai bentuk pengorbanan lain.

Dengan demikian, menjadi seorang muslim adalah menjadi pendaki. Itulah sebabnya Qur’an menamakannya dengan “Al-Aqabah” atau jalan yang mendaki. “…..Tahukah kamu, apakah jalan mendaki lagi sukar itu? Yaitu membebaskan budak atau memberi makan pada hari kelaparan, kepada anak yatim yang memiliki hubungan kerabat atau orang miskin yang sangat fakir (QS. al-Balad: 11-16)”.

Dihadapkan pada tantangan yang begitu berat, ada tiga tipe pendaki. Tipe pertama adalah QUITTER. Gunung tantangan mereka tinggalkan. Semua kewajiban tak dikerjakan. Kesalehan individual tak dicapai. Kesalehan sosialpun mereka abai.

Tipe kedua adalah CAMPER. Para campers terjebak pada zona nyaman. Rutinitas ibadah shalat mereka kerjakan. Batas minimalis kesalehan individualnya sudah digapai. Namun pendakian yang penuh tantangan dan pengorbanan tak dilanjutkan.

Tipe ketiga adalah CLIMBER. Para climbers sudah berhasil melewati zona nyaman dan mereka bertekad untuk menempuh puncak pendakian. Para climbers tak hanya puas dengan zona nyaman kesalehan individual dan melengkapinya dengan kesalehan sosial. Para cliimbers tak hanya memikirkan kebutuhan dirinya namun juga orang lain. Para climbers tangguh dalam penguatan hubungan pribadinya dg Allah dan kokoh ikhtiarnya untuk memikirkan dan memberdayakan umat dengan sumberdaya dan sumberdana mereka.

Sampai dimanakan kita mendaki sobat? Semoga kita menjadi CLIMBERS sejati !