JALAN PENCARI KEBAHAGIAAN

Kebahagiaan acapkali dijadikan tujuan dari setiap ikhtiar hidup manusia. Kredo-kredo kesuksesan sering dinisbahkan kepada tercapainya kebahagiaan. Level kebahagiaan juga sering dicandra sebagai pintu masuk untuk segala kisah keberhasilan. James Harkin berujar, “happy people are generally more productive and more successful”, “happy nations are likely to be more prosperous than miserable ones”. Begitu menariknya obsesi kebahagiaan, berlusin ahli psikologi, sejarah, sosiologi, dan pendidikan mengabdikan berlembar-lembar halaman bukunya untuk menelaah kebahagiaan.

Ada sebuah pandangan hidup baru bahwa harta benda yang mampu dibeli adalah jaminan kebahagiaan. Pandangan inilah yang menjadi pemicu konsumerisme. Begitu dahsyatnya, nafsu konsumerisme justru membawa petaka spiritual. Jessica William dalam bukunya “50 Facts that should change the world” menulis sebuah fakta menarik. “Dari 7000 orang di 6 negara Eropa yang disurvey, 88 persen orang lebih mengenal logo McDonald, Shell, dan Mercedes Benz daripada lambang Salib dalam agama Kristen. Konsumerisme telah menjelma menjadi agama baru. Tuhan menjadi tidak menarik lagi, terkalahkan oleh merek tersohor. Brand dan merek dianggap lebih mampu memegahkan diri dibanding ajaran Tuhan.

Yang aneh, ketika manusia dapat menaiki puncak-puncak pemenuhan kebutuhan materinya, kebahagiaan tak lekas menyapa. Meningkatnya daya beli tak serta merta melejitkan rasa bahagia. Bahkan Richard Layard dalam bukunya ‘Happiness: Lessons from a New Science’ (2005)” bertutur, “people are no happier today than people were fifty years ago”. Lebih lanjut, Layard berani mengklaim bahwa kemampuan konsumeris manusia untuk memanjakan diri dengan berlimpah materi belum berhasil menghadirkan kebahagiaan.

Bagi insan mukmin, muara puncak kebahagiaan bukanlah harta benda. Bisa jadi kemegahan dalam harta yang melalaikan adalah jalan tol menuju petaka. “Kamu telah dilalaikan (dari mengingat Allah) karena bermegah-megah”, demikian pesan Allah dalam At Takaatsur.

Demikian, bersemayamnya iman, dan tunduknya hati kepada nilai-nilai Illahiah adalah jalan bagi pejuang kebahagiaan yang hakiki.