THE FAST WILL EAT THE SLOW

Di era yang penuh kompetitif ini, ada sebuah buku yang menarik karya Jason Jenning berjudul “It’s not the big that eat the small; It’s the fast that eat the slow”: how to use speed as competitive tool in business”. Jenning mengajarkan bahwa pemenang di era kompetitif bukanlah perusahaan yang berukuran besar, tapi yang cepat bergerak. “Size doesn’t matter. The speed does”. Perusahaan ‘dinosourus’ mati karena lambat untuk mengantisipasi perubahan. Karena lambat bergerak Motorola jatuh, digantikan oleh Nokia. Nokia pun tak bertahan lama, dilibas oleh Samsung yang bergerak cepat mengembangkan tekhnologi Android.  Alkisah, ensiklopedi Britanica pernah merajai dunia perkamusan selama puluhan tahun, tapi gulung tikar seketika karena lambat mengantisipasi tumbuhnya teknologi digital, kalah cepat oleh Ensiklopedi digital Encarta. 

Dalam ibadah sejatinya berlaku juga konsep “It’s the fast that eat the slow”. Kecepatan menjadi ‘competitive tool’ dalam ibadah. Qur’an mengajarkan bahwa ibadah dalam kehidupan ini adalah sebuah kompetisi. “Huwa muwalliihaa fas tabiqul khairaat…!” Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan” (al Baqarah/2: 148). Dan sukses berkompetisi dalam ibadah memerlukan ‘speed’. Kitab suci berpesan, “ “Wa saari’uu ilaa maghfiratim mir rabbikum”. “Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu” (Ali Imran 3: 133). Inilah sebuah pesan agar kita mengakselerasi kecepatan untuk melakukan aksi dalam beramal kebajikan: Paling cepatlah datang ke shalat jamaah di masjid; paling cepatlah dalam membayar zakat; paling cepatlah dalam mendaftarkan ibadah haji; paling cepatlah dalam memberi sodakoh dan infaq; paling cepatlah dalam memberi salam dan kebaikan; paling cepatlah dalam tersenyum kepada orang lain paling cepatlah dalam menjadi individu yang produktif dan kontributif serta paling cepatlah dalam menciptakan prestasi.

Ya, “The fast will eat the slow”