KETIKA SEGUNUNG KEBAJIKAN MENJADI DEBU YANG BETERBANGAN

Ketika deret ukur kebajikan telah menggunung, jangan terlanjur takabur bahwa pahala kita akan agung. Karena bisa jadi segunung kebajikan bisa menjadi debu beterbangan. Seperti sabda Nabi:

“Aku akan memberitahukan kepada kalian bahwa akan datang nanti dari umatku pada hari Kiamat dengna amal kebajikan yang tinggi pegunungan Tihamah. Akan tetapi, Allah menjadikan amal mereka bagaikan debu yang beterbangan. Mereka adalah saudara kalian dan dari jeni kalian (manusia). Mereka mendirikan shalat malam seperti kalian. Akan tetapi, mereka adalah kaum yang bilamana jauh dari mata manusia melanggar larangan-larangan Allah” (HR. Bukhari, shahih).

Agar amal kebaikan tak beterbangan bagai debu, rawatlah sikap IKHLAS dalam berkebajikan. Ikhlas artinya kita tak memerlukan perhatian manusia lain dalam beramal. Si manusia ikhlas tak butuh ‘standing ovation’, tepuk tangan, pandangan mata kagum dan luapan pujian atas tindak kemuliaannya. Kemampuan amal shaleh berlandaskan ikhlas akan mendarah daging, menjadi perilaku akhlak yang bersifat ‘sub-conscious’, genuine! Manusia ikhlas hanya mencari ridha Allah. Segala tindak kebaikan adalah wujud baktinya kepada perintah Sang Khalik. Prestasi amal dan kualitas kebaikan adalah persembahan terbaiknya kepada Illahi.

Agar amal kebaikan tak beterbangan bagai debu, semaikan sikap MURAQABAH. Muraqabah adalah kesadaran bahwa tindakan, gerak langkah, denyut nadi, percikan pikiran selalu dalam pengawasan Allah. Etos muraqabah akan menghadirkan akhlak mulia, tangguh, reliable. Moralitas elegan yang hadir akibat muraqabah adalah genuine, inside out. Kadar akhlak dan amal shaleh berbasis muraqabah tak tergantung pada paksaan aturan manusia, law enforcement, denda. Moralitas sang Ahli Muraqabah membentuk akibat rasa ‘khauf’-tunduk, takut, takdzim dan hormat kepada aturan-aturan dari Yang Maha Pengatur. Ia bertindak mulia baik dalam keramaian maupun dalam kesendirian. Iapun tak bermaksiat dalam keramaian maupun dalam kesendirian.