TAWADHU’

TAWADHU’ yang diambil dari kata kerja TAWAADHA’A bisa ditakrifkan sebagai kemampuan untuk memperlihatkan KERENDAHAN HATI. Kata padanan bahasa Inggrisnya adalah “HUMBLENESS”. Merujuk makna yang lebih hakiki, Fudhail bin Iyadh memaknai tawadhu’ sebagai TUNDUK DAN INSYAF KEPADA KEBENARAN serta MENERIMA KEBENARAN DARI ORANG LAIN. Tepatnya, tawadhu’nya seorang hamba ditandai oleh kemauannya untuk mematuhi perintah dan menjauhi laranganNya.

Suatu saat, orang-orang hendak mengkultuskan Rasulullah. Apa jawaban beliau? : “Janganlah kalian mengkultuskanku sebagaimana orang-orang Nasrani mengkultuskan Ibnu Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba…” (HR. Bukhari).

Betapa luar biasanya tawadhu’nya Rasul kekasih Allah. Seperti Rasulullah, terpadu dalam satu tabiat, insan yang tawadhu’ bersikap rendah hati, pantang tinggi hati, enggan disebut ‘yang mulia’, tak mau dikultuskan sesama. Hatinya lapang terhadap kebenaran. Kalbunya peka memilah mana yang mulia dan mana yang durjana.

Menghiasi diri dengan akhlak tawadhu adalah jalan untuk dicintai Sang Khalik. “Adapun hamba-hamba Tuhan yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati….(QS 25:63).

Insan yang tawadhu’ tak rela memakai ‘baju kesombongan’ dalam kehidupannya. Si takabur akan menganggap dirinya telah dimuliakan Allah karena tawadhu’nya, melihat dirinya lebih mulia dari pada sesama dan merasa takjub nan bangga dengan dirinya. Si takabur menepuk dada karena harta, berbangga karena tahta dan tinggi hati karena rupa. Dan waspadai puncak dari segala puncak kesombongan: “Al kibru batharul haqqa wa ghomthunnas”. “Takabur adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia” (HR. Muslim)

Sebaliknya insan tawadhu’ percaya, “Tak akan masuk surga orang yang didalam hatinya terdapat zarah ketakaburan” (HR. Muslim). Melalui sejarah kita berkaca, manusia-manusia takabur sengsara dunia akhiratnya. Fir’aun takabur dengan tahta dan kekuasaannya; Qarun takabur dengan harta bendanya dan kaum Tsamud takabur dengan intelektualitasnya. Kebenaran mereka sembunyikan; pesan dari Tuhan mereka campakkan.

Jika demikian, tawadhu’ adalah sunnah Rasulullah yang mesti kita tumbuhkan dan takabur adalah penyakit hati yang mesti kita matikan. Karena tawadhu’ adalah jalan terlapang untuk menerima kebenaran. Karena tawadhu adalah salah satu kunci pembuka pinta surga yang menjanjikan kebahagiaan.