7 RAHASIA SUKSES ALA RASULULLAH

Sukses, bagi kaum materialis diukur oleh capaian-capaian prestasi dunia: Harta, tahta dan cinta. Bagi insan beriman, parameter kesuksesan tidak berhenti pada ketiganya. Seorang mukmin menargetkan kesuksesan-kesuksesan jangka pendek dunia dan kemenangan jangka panjang kebahagiaan kehidupan pasca dunia.

Bagaimana strategi meraih kemenangan dan kesukesan dunia dan pasca dunia? Rasulullah mengajarkan 7 rahasianya:

  1. LEADERSHIP yg berbasis keadilan. Amanah pemimpin tak saja dipertanggungjawabkan kepada para pemilih atau wakil rakyat. Bagi Rasulullah, amanah kepemimpinan akan dipertanggungjawabkan kepada Sang Pemberi Amanah. Inilah sebabnya attribute pemimpin yang akan mendapatkan prevelege di hari kiamat menurut Nabi adalah “Imaamun ‘aadilun” (HR. Bukhari), yakni PEMIMPIN YANG ADIL. Keadilan pemimpin yang paling hakiki bersumber dari ketakwaan dan ketundukannya kepada Allah. Kekuatan keadilan yang digerakkan takwa tentu akan menjadi energi dahsyat untuk mengemban amanah, memakmurkan, mencerdaskan, dan memberdayakan orang-orang yang dipimpin. Sikap zalim, dusta, semena-mena, korup, tak mungkin akan hadir dalam diri pemimpin yang diilhami oleh spirit adil.
  2. GENERASI SHALEH. Inilah yang dikatakan oleh Rasulullah sebagai: “wa sya bu nasyaa fii ‘ibaadatillah” (HR. Bukhari), yakni “GENERASI MUDA YANG TUMBUH DALAM KETAATAN IBADAH KEPADA ALLAH”. Inilah postur generasi muda yang dicitakan oleh Islam. Namun demikian, mencetak kualitas generasi muda yang tercelupi oleh nilai Islam tidaklah mudah. Kesadaran penting tentang pewarisan nilai Rabaniyyah perlu dimiliki orang tua. Warisan inilah yang ditinggalkan Ibrahmi dan Ya’kub kepada anak-anaknya. “Hai anak-anaku sesungguhnya Allah telah memilih agama in bagimu, maka janganlah kalian mati kecuali dalam memeluk agama Islam” (QS. Al baqarah: 133). Jantung dari penyerahan tongkat estafet nilai-nilai Islam tentu adalah keluarga. Selanjutnya amal komunitas yang digerakkan oleh masjid, lembaga pendikan, dan organisasi masyarakat selaiknya menjadikan pewarisan nilai Rabanniyah sebagi prioritas.
  3. KOMITMEN KEISLAMAN yang digerakkan dari Masjid. Inilah yang disabdakan Rasulullah: “Warajullun qalbuhu mu’allaqun fil masaajidi” (HR. Bukhari), yakni ORANG YANG MENGGANTUNGKAN HATINYA KEPADA MASJID. Mereka istirah dari hiruk-pikuk dunia dan menyerahkan hatinya, bermunajat kepada Allah. Selain itu, kaum yang intens mendatangi masjid biasanya adalah para aktifis yang memikirkan persoalan umat dan generasi muda. Amal jamaah disemaikan. Kepeduliannya digerakkan oleh keikhlasan. Masjid yang diisi oleh kaum peduli akan menjadi pusat pendidikan, pencerahan dan peradaban.
  4. SINERGI. Sinergi adalah menyatukan kekuatan, amal jama’i. Sinergi yang terdahysat adalah sinergi yang digerakkan oleh nilai-nilai Rabaniyah. Menyatu dan sehati karena Allah. Sinergi semacam ini digambarkan oleh Rasulullah sebagai: “warajulaani tahaabbaa fillaahijtama’aa ‘alaihi watafarraqaa ‘alaihi (HR. Bukhari)”, yakni “ DUA ORANG YANG SALING MENYAYANGI KARENA ALLAH; BERGABUNG DAN BERPISAH KARENA ALLAH”. Jika gerak kaki berbaris bersama dengan semangat nilai Illahi, cita-cita akan menjadi ‘shared vision’. Sinergi menghajatkan kita bergerak dalam TEAM. TEAM itu singkatannya “Together everyone achieve more”. Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh. Sinergi itu berkontribusi sesuai potensi yang dimiliki.
  5. SELF-CONTROL. Kemampuan mengontrol syahwat digambarkan oleh Rasulullah sebagai “Warajulun da’atum ra atundaatu manshabin wa jamaalin; faqaalu: inni akhaafullaah” (HR. Bukhari) atau SEORANG LAKI-LAKI YANG DIAJAK MELAMPIASKAN SYAHWAT OLEH SEORANG PEREMPUAN YANG MEMILIKI KEKUASAAN DAN KECANTIKAN TETAPI IA BERKATA, “SUNGGUH, AKU TAKUT KEPADA ALLAH. Kemampuan mengontrol syahwat hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang teruji etos ‘muraqabahnya’, yakni selalu merasa dalam pengawasan Allah dalam setiap gerak dan tindakan kehidupannya. Etos muraqabahlah yang akan melahirkan sifat hati-hati dalam melangkah. Dan sikap hati-hati adalah prakondisi untuk menumbuhkan sikap takwa.
  6. SPIRIT KEIKHLASAN. Amal berlandaskan rasa Ikhlas digambarkan oleh Rasulullah sebagai “warajulun tashoddaqa bishadaqatin fa akhfaahaa hatta laa ta’lamu syimaaluhu maa tanfiqu yamiinuhu” (HR. Bukhari) atau ORANG YANG BERSEDEKAH KEMUDIAN IA MENYEMBUNYIKAN AMALNYA ITU HINGGA TANGAN KIRINYA TIDAK MENGETAHUI APA YANG TELAH INFAKKAN OLEH TANGAN TANGANNYA. Beramal dalam keikhlasan adalah beramal tanpa tepuk tangan dan popularitas. Namun spirit ikhlaslah yang akan menjadi energi bagi para aktifis untuk bergerak dan berjuang. Etos ikhlaslah yang akan memantik motivasi untuk membuat amal prestasi.
  7. KECERDASAN SPIRITUAL

Para pakar telah mengajarkan pentingnya kecerdasan Intellectual, emotional, interpersonal, intrapersonal dll. Namun sayang kecerdasan terpenting diabaikan: “kecerdasan spiritual”. Seorang yang memiliki kecerdasan spiritual tinggi digambarkan oleh Rasulullah sebagai “Wa rajulun dzakarallaaha khaaliyan fafaa dhatu ‘ainaahu” (HR. Bukhari) atau “ORANG YANG MENCUCURKAN AIR MATA KARENA MENGINGAT ALLAH DALAM KESENDIRIAN”. Kecerdasan spiritual merupakan puncak segala kecerdasan. Ia merupakan titik kulminasi dari kemampuan kita untuk menanggalkan segala ‘jubah kesombongan’, melepaskan kepongahan tahta, harta dan ketakaburan intelektual kita dihadapan Sang Khalik. Tadzim, berserah diri dan tunduk hanya kepadaNya.