MENELADANI KETEGARAN RASULULLAH

Hidup tak mungkin lepas dari masalah. Yang jadi penguasa, ekonomi bangsa carut-marut, menterinya berkelahi, nilai tukar rupiah melorot terus. Yang jadi rakyat harga sembako melangit, bayaran anak kuliah melejit, bikin stress makin menggigit, perut sembelit, kepala ingin dipijit. Yang jadi orang tua anak-anaknya nakal dan susah dinasehati. Yang jadi guru anak didiknya sulit diajak maju. Yang jadi mahasiswa masalah amburadul, nulis susah cari judul, kiriman beasiswa belum ‘njedul-njedul’, ide dan gagasan nggak muncul-muncul.

Bila tantangan menghadang dan cobaan menghalang, teladanilah ketegaran Rasulullah. “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah” (Al-Ahzab: 21).

Para ustadz biasanya menerangkan ayat ini secara umum, yakni dengan mengajak jamaahnya meneledani akhlak mulia Rasulullah. Namun, menurut kitab-kitab tafsir, poin penting dari pesan surat Al-Ahzab ayat 21 adalah sebuah pelajaran tentang keteguhan dalam menghadapi tantangan.

Ibnu Katsir mengatakan bahwa ayat ini turun semasa perang Khandaq. Harap tahu saja, perang Khandaq adalah perang paling sulit, terdahsyat cobaan dan tantangannya. Sampai-sampai Ummu Salmah, istri Rasulullah berkata: “Tak ada perang yang membuat lelah Rasulullah dan lebih membuat kami takut melebihi perang Khandaq”.

Allah kemudian berfirman untuk pasukan Islam yang takut, gelisah, galau, goncang jiwanya dan tercabut keberaniannya: “Laqad kaana lakum fii rasuulillaahi uswatun hasanatun” (sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu”.

Menurut Ibnu Katsir, inilah ayat dimana Allah menyuruh orang-orang yang dilanda cobaan, musibah, halangan, rintangan dan tantangan untuk meneledani keteguhan Rasulullah.

KETEGUHAN YANG PROAKTIF: TENANG, PROBLEM SOLVING APPROACH, TAKE ACTION

Dan keteguhan Rasulullah bukanlah ketegaran yang pasif, namun proaktif. Menghadapi tantangan potensi serangan dahsyat musuh, Rasulullah tidak diam, atau panik, complain, mengeluh, takut, khawatir. Tapi beliau mengedepankan pendekatan ‘problem solving’. Setelah itu take action.

Beliau berdialog, membuat strategi dengan Salman Al-Farisiy. Beliaupun memimpin pasukan membuat parit pertahanan. Nabi aktif bekerja keras menggali tanah, menghancurkan batu penghalang, memikul tanah dan pasir sembari memberi semangat kepada pasukan. Letih lelah tak dirasa. Peluh keringat membanjiri tubuh. Siang malam. Berhari-hari.

Ketegaran Rasulullah dan keteguhan beliau adalah salah satu sebab Allah memberikan kemenangan dalam perang Khandaq.

Jika masalah kita tak sebesar perang Khandaq, tak ada alasan untuk tidak bersemangat dalam menjalani kehidupan.

Teladanilah Rasulullah: ketegarannya, keteguhannya, sikap proaktifnya dalam menghadapi masalah dan tantangan. Ketika ketegaran proaktif ditumbuhkan, Insya Allah Allah akan memberikan kemenangan-kemenangan.

Melbourne, 6 Januari 2016