MENJADI MANUSIA GURU

Tugas suci para guru sejatinya adalah “educating”. Educating bermakna lebih mendalam daripada teaching. Jika ‘teaching’ adalah ‘the training of mind/intelligence’, maka ‘education’ adalah the ‘training of moral and spiritual capacity’.

Terma ‘education’, ujar Craft dalam bukunya “Education in diversity” (1984), terkait dengan dua kata dari bahasa latin, yakni ‘educare’ dan ‘educere’. Educare bermakna “to train”. Educere bermakna “to lead out”. ‘Educare’ itu sebangun dengan makna mengajar.   Sedangkan “Educere” itu ‘mendidik’: membantu terdidik memekarkan potensi; mendorong terdidik bertransformasi; memimpin dan menginspirasi.

Tugas mengajar lebih ringan daripada mendidik. Jika anak didik sudah dapat menguasai materi pembelajaran, purnalah tugas guru. Tugas mendidik jauh lebih sulit. Ia berkelindan dengan tanggung jawab moral untuk menyemaikan karakter mulia generasi muda, memperbaiki akhlaknya, mengelokkan wataknya, menajamkan kesadaran ketuhanannya dan menghaluskan pekertinya. Si guru menyangga beban moral jika anak didiknya bengal, muridnya ugal-ugalan, alumninya mencuri uang negara, lulusannya bertindak durjana, keluarannya berlaku asusila.

“Guru adalah agen moral” ujar Johnston dalam bukunya “Values in English Language Teaching” (2002). Mereka adalah penjaga moral generasi muda. Mereka adalah perawat mentalitas anak bangsa.

Jika begitu, betapa berat menjadi guru!

Dalam mozaik kalimat puitisnya, Kahlil Gibran berkata:

“Barangsiapa mau menjadi guru

Biarkan dia memulai mengajar dirinya sendiri

Sebelum mengajar orang lain

Dan biarkan dia mengajar dengan teladan sebelum mengajar dengan kata-katanya

Sebab mereka yang mengajar dirinya sendiri dengan mengelokkan perbuatannya sendiri lebih berhak atas penghormatan dan kemuliaan..”

 

Gibran sebenarnya berpesan agar para pendidik bisa ‘walk the talk’. Guru harus dapat ‘digugu lan ditiru’; mampu menyatukan kata dan perbuatan; pintar memberi suri tauladan kebaikan. Seperti Mahaguru Rasulullah: berani memerintahkan shalat karena kaki beliau bengkak akibat banyaknya shalat; percaya diri memerintahkan bekerja keras karena beliau adalah pekerja keras; yakin mengajarkan pentingnya perjuangan karena sang Nabi selalu berada di garis depan medan perjuangan; tak ragu mendidik kita untuk memuliakan akhlak karena kehidupan beliau berhiaskan akhlak mulia.

Kitab suci telah menegur para pengajar yang tak memberikan keteladanan: “Mengapa kamu menyuruh mengerjakan kebajikan sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri….” (QS. Al Baqarah: 44).

Betapa dahsyatnya jika semua orang mampu menjadi manusia guru sesuai kapasitasnya. Pejabat menjadi contoh kebaikan bagi rakyatnya. Pemimpin memperlihatkan teladan kemuliaan bagi pengikutnya. Pemuka agama menjadi model moralitas bagi umatnya. Orang tua menjadi  referensi kebajikan bagi anak-anaknya. Para pendidik mecontohkan keindahan perilakunya pada peserta didiknya.